5 Hal yang Dapat Menghilangkan Rasa Bersalah Setelah Ngemil

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi ngemil di kantor. shutterstock.com

    Ilustrasi ngemil di kantor. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ngemil biasanya dilakukan di sela jadwal makan tiga kali sehari. Camilan yang dimakan bisa berupa makanan ringan atau buah-buahan. Menurut hasil survey Mondelez Indonesia, rata-rata 1 dari 3 orang mengkonsumsi lebih dari 3 camilan per hari.

    Psikolog klinis Tara de Thouras menyarankan sebelum mengkonsumsi camilan sebaiknya pahami kenapa kita membutuhkan camilan. "Apakah karena lapar atau sekedar ingin memberikan ‘hadiah’ pada diri sendiri," ujarnya di dalam diskusi media, di Jakarta pekan lalu. 

    Baca juga:
    Ngemil Juga Ada Syaratnya Supaya Tetap Sehat
    Kebiasaan Ngemil Orang Indonesia Lebih dari 3 Kali Sehari
    Ngemil Juga Ada Syaratnya Supaya Tetap Sehat

    Hal ini agar mengurangi kecenderungan konsumsi makanan yang berlebih. Selain itu, momen ngemil jadi lebih memuaskan sehingga menghilangkan ‘rasa bersalah’ yang diasosiasikan dengan ngemil. Untuk menghilangkan rasa bersalah setelah menkonsumsi camilan, Tara memberikan tips yang dapat dilakukan berikut ini. 

    Cek sinyal tubuh
    Sebelum mengkonsumsi camilan disarankan untuk mengecek sinyal tubuh. Dalam diri manusia terdapat tiga sinyal yaitu sinyal mulut, perut dan dada atau hati. Sinyal perut harus merasakan apa yang dirasakan mulut. "Apakah terasa basah, kering atau bahkan terasa tidak enak, jika mulut terasa kering itu bisa berarti tubuh kita butuh air atau bahkan butuh makan," ujar Tara. 

    Setelah merasakan sinyal mulut selanjutnya kita rasakan sinyal dari perut, apakah perut kita terasa kosong, terasa penuh, atau bahkan terasa tidak nyaman. Jika sinyal mulut menunjukan rasa kering namun sinyal perut menunjukan rasa penuh, artinya adalah tubuh kita butuh minum, dan berlaku sebaliknya. Langkah selanjutnya adalah rasakan di dada kita apakah kita benar-benar merasa butuh makan atau hanya sekedar ingin karena melihat teman lain sedang makan.

    Relaksasi
    Emosi dan logika tidak pernah berjalan beriringan, keduanya selalu bertolak belakang. Hal tersebut yang menyebabkan ketika orang marah seketika mereka menjadi tidak terkontrol, karena emosinya sedang dipuncak dan logikanya rendah. Ketika emosi turun logika pun menjadi naik, kemudian akan menyadari dengan apa yang sebelumnya dilakukan dan kemudian menyesalinya.

    Hal ini berlaku juga dengan ngemil, karena harus dilakukan dalam keadaan sadar dan stabil. "Sebelum makan kita harus menimbang-nimbang apakah camilan tersebut perlu untuk kita atau tidak, ini agar kita tidak merasa bersalah setelah ngemil, ujar Tara.

    Ilustrasi orang mudik lagi ngemil. Traveller.com.au

    Fungsikan 5 Indra
    Sebelum ngemil, gunakan semua panca indra. Mata untuk melihat kemasan dan komposisi apa saja yang terdapat dalam camilan. Tangan untuk merasakan tekstur cemilan. Hidung digunakan untuk mencium aroma camilan secara perlahan sebelum dimakan. Sedangkan lidah untuk merasakan camilan dengan perlahan, tidak terburu-buru supaya tidak merasa cepat kenyang dan kelebihan porsi ngemil. Sedangkan telinga digunakan untuk mendengarkan makanan yang sedang dikunyah. Dengan menggunakan fungsi lima indra tersebut, kita akan merasa bahagia saat menikmati camilan.

    Tunggu sebentar
    Perlu waktu 10-15 menit untuk perut kita mengirim sinyal ke otak, bahwa perut kita sudah kenyang atau penuh. Itu sebabnya kenapa jika makan terburu-buru perut  masih terasa lapar karena perut belum mengirim sinyal ke otak. Jika terjadi secara berlanjut akan menyebabkan kelebihan porsi ngemil.

    Bersyukur
    Setelah makan biasakan jangan lupa untuk selalu bersyukur, karena bagaimanapun makanan yang telah masuk kedalam tubuh tidak boleh disesali. Hal itu akan membuat emosi naik dan membuat ingin makan terus menerus.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.