Ngemil Juga Ada Syaratnya Supaya Tetap Sehat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita makan sayur. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita makan sayur. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ngemil alias makan camilan tak selamanya buruk. Menurut pakar gizi keluarga, Leona Djajadi, ngemil dinilai perlu dan penting untuk pola makan sehat asalkan dalam takaran dan waktu yang sesuai.

    "Makan camilan itu penting untuk diet sehat, tapi bukan asal lapar mata," kata Leona. Dia mengemukakan camilan bisa dikonsumsi dua sampai tiga kali sehari. Sementara waktu yang tepat untuk ngemil ialah satu jam sebelum makan dan dua jam setelah makan.

    Leona juga mengingatkan agar memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi. Dia menganjurkan untuk mengkonsumsi sayuran dan buah sebagai camilan. "Sayuran dan buah yang utama, ditambah protein, makanan yang mengandung kalsium, rendah lemak, dan gula buatan," ujarnya.

    Dia mencontohkan makanan dan minuman dari produk susu karena mengandung kalsium yang tinggi, fosfat, rendah lemak, dan protein yang bagus untuk kesehatan gigi dari luar dan dalam. "Susu, kacang kedelai mengandung kalsium tinggi, protein nabatinya tinggi, dan sumber serat," kata Leona.

    Sedangkan untuk menarik minat anak-anak, dia menyarankan untuk memberikan camilan yang sehat namun bervariasi agar tidak bosan. Dia menyebutkan hasil survei yang menunjukkan 79 persen orang membeli camilan hanya karena lapar mata melihat tampilan bentuk dan warnanya. Sementara 65 persen orang membeli makanan hanya karena mau mencoba makanan baru. Selain itu, setiap tahunnya konsumsi camilan naik 4 persen untuk wilayah Asia Pasifik.

    ANTARA


    Artikel lain:
    Beda Penyerapan Zat Besi Nabati dan Hewani pada Bayi 
    Awas, Pola Makan Salah dan Pilek Juga Sebabkan Kantung Mata
    9 Jalan Menuju Kebahagiaan Versi Peneliti, Uang Bukan yang Utama


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.