Menengok Uniknya Koleksi Bateeq, BYO dan ETU

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang model tampak santai memperagakan busana koleksi BYO karya desainer Tommy Ambiyo Tedji sebelum terjadi insiden busana yang ia kenakan tak sengaja terlepas, dalam Jakarta Fashion Week 2017 di Senayan City, Jakarta, 22 Oktober 2016. TEMPO/Nita Dian

    Seorang model tampak santai memperagakan busana koleksi BYO karya desainer Tommy Ambiyo Tedji sebelum terjadi insiden busana yang ia kenakan tak sengaja terlepas, dalam Jakarta Fashion Week 2017 di Senayan City, Jakarta, 22 Oktober 2016. TEMPO/Nita Dian

    TEMPO.CO, Jakarta - Jakarta Fashion Week 2017, yang berlangsung selama seminggu dari 22-28 Oktober ini, diawali dengan penampilan desainer ternama Indonesia, yang didukung oleh Indonesia Fashion Forward. Pagelaran menarik pada hari pertama oleh Bateeq, BYO dan ETU, dilakukan di Fashion Tent, Senayan City, ditunggu-tunggu fashionista dan penikmat mode Indonesia.

    Ayo Semangat!

    Bateeq, dengan Creative Director Michelle Tjokrosaputro, menampilkan koleksi terbarunya bertema “Catena”. Catena yang berarti mata rantai, kontinuitas atau putaran, seperti halnya berbagai unsur yang ada di alam, yaitu air, tanah, udara, makhluk hidup dan lainnya, dapat berubah bentuk baik langsung atau tidak. Namun elemen-elemen ini akan tetap ada walaupun dalam wujud berbeda. Pada koleksi kali ini, Bateeq terinspirasi oleh 3 motif batik, yaitu Salur, Kembang Kanthil dan Fajar Menyingsing.


    Penggunaan bahan juga beragam, dari natural seperti katun, semi natural dan viscose serta bahan sintetik polyester. Dengan gaya yang trendi namun tetap nyaman dan fit ketika dikenakan, Bateeq menjadi favorit para fashionista dalam memilih gaya busana. Bateeq nemanpilkan gaya busana yang sangat variatif dan dibuat untuk mengakomodasi mereka yang harus pergi dari satu tempat ke tempat lain serta melakukan beberapa aktivitas sekaligus dalam satu hari.

    Sementara keunikan BYO terletak pada rancangannya yang menggunakan experimental objects. Eksplorasi dari desainer BYO, Tommy Ambiyo Tedji, yang awalnya ialah seorang desainer industri, sangat perduli pada penggunaan material interweaving. Dengan teknik ini, Tommy mengkreasikan koleksi busana dan tas yang unik pada JFW 2017.


    Semua busana koleksinya tidak mempunyai retsleting namun digabungkan dengan magnet. Sehingga koleksi ini terasa futuristik, megah dan mudah untuk dipakai oleh wanita. Tommy juga melengkapi koleksi dengan tas-tas yang unik tetap dengan teknik interweaving.

    Mendapat dukungan dari Indonesia Fashion Forward, ETU menampilkan 13 busana dengan tema “Terrestrial”. Koleksinya yang didominasi oleh material ultrasuede dan katun ini mengeksplorasi teknik flounces dan ruffles. Restu Anggraini, desainer ETU, ingin menampilkan gaya office wear yang formal dengan sisi feminin seorang wanita sukses yang berkarakter kuat. “It’s like everyone loves you, but you’re untouchable. Because, you are the boss!” demikian ungkap Restu.


    Terrestrial juga menampilkan sesuatu yang natural. Warna-warna yang ditampilkan merupakan warna lembut dan nyaman, seperti warna biru, hijau pupus, putih dan coklat. Tekniks flounces dan ruffles dengan detail kerutan berpola juga terinspirasi beberapa elemen alam seperti daun, bunga, dan awan.

    LIESNA SUBIANTO

    Berita lainnya:
    Pakai Kebaya Bikin Susah Bergerak, Salah Besar!
    Ladies, Jangan Sampai Termakan Rayuan Pria Beristri
    JFW 2017 Jii dan Milcah: Inspirasi Kebebasan dan Kesegaran


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.