Dampak Buruk Terlalu Sering Pakai Tas Dicangklong di Tangan

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita memakai tas. Unsplash.com/Tamara Bellis

    Ilustrasi wanita memakai tas. Unsplash.com/Tamara Bellis

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemakaian tas dapat mempengaruhi kondisi tubuh. Terutama para para perempuan yang terbiasa memakai tas jenis hand bag atau lainnya dengan cara menyangkutkannya di pergelangan tangan harus lebih waspada. 

    Baca juga: Jangan Tertipu Beli Tas Bermerek Bekas, Ikuti Tips Berikut

    Apalagi bila isi tasnya berbobot sampai berkilo-kilogram. Menurut dokter jantung dan pembuluh darah Vito Damay, cara memakai tas seperti itu, ditambah massanya berat, bisa mengakibatkan rasa kebas pada tangan atau jari. Kondisi tersebut kerap terjadi pada ibu-ibu yang juga sibuk menggendong anak sehingga tangan serta pundaknya mengalami tekanan dalam waktu lama.

    "Pergelangan tangan kalau tertekan oleh benda berat dalam waktu lama akan membuat saraf meradang," kata Vito ditemui di pameran Mommy N Me, di  Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat, 28 Juni 2019. 

    Ilustrasi tas Hermes. TEMPO/Ifa Nahdi

    Dia menyarankan untuk mengurangi barang bawaan bila memang memutuskan untuk memakai tas yang modelnya harus dicangklongkan di pergelangan tangan atau sebelah bahu. "Bagian pundak tersambung otot ke kepala, kalau kepala dan leher tegang bisa jadi karena salah bawa tas," kata Vito Damay.

    Sementara jika kerap membawa barang-barang yang berat, Vito mengingatkan agar memakainya dengan benar. Kedua talinya harus disangkutkan ke bahu, tidak boleh cuma sebelah. 

    Selain itu, postur tubuh juga menentukan jumlah beban yang bisa dibawa. Pemilik tubuh bongsor cenderung bisa membawa barang yang lebih berat ketimbang pemilik tubuh mungil. "Cara menentukannya, saat pakai tas pastikan tubuh imbang. Kalau tubuh sampai membungkuk atau punggung tertarik ke belakang berarti terlalu berat," tandas Vito Damay. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.