Kamis, 15 November 2018

Tren Tas Kecil, Tetap Gaya Meski Mobilitas Tinggi

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi tas berbahan kulit. TEMPO/Jacky Rachmansyah

    Ilustrasi tas berbahan kulit. TEMPO/Jacky Rachmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta  Tren mode terus berubah dan berkembang. Misalnya sekitar lima  tahun yang lalu, banyak yang menggemari tas besar, yang bisa membawa banyak barang. Namun, sekarang masyarakat lebih memilih untuk menggunakan tas kecil dan imut agar tidak membuat penampilan terlihat menonjol.

    Baca juga: Tas Cantik Ramah Lingkungan Terbuat dari Kantong Semen

    Bahkan di tempat penjualan barang preloved, tas besar harganya cenderung turun dan lebih murah dibanding dengan tas kecil. “Semakin ke sini, perempuan banyak yang memerlukan tas yang bisa bergerak secara dinamis. Seperti contohnya, daripada sepatu hak sekarang banyak yang lebih suka sneakers. Sekarang semua rumah mode punya koleksi sneakers,” ujar Marisa Tumbuan, Pendiri Irresistible Bazaar, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

    Irresistible Bazaar, menjual barang preloved bermerek, di Grand Indonesia. TEMPO | Astari Pinasthika Sarosa

    Marisa Tumbuan mengatakan perubahan tren ini disebabkan oleh kebutuhan dari kegiatan sehari-hari yang juga berubah. Sekarang, semakin banyak wanita mencari tas yang dapat mempermudah untuk bergerak dan memiliki mobilitas tinggi.

    Tren tas yang kecil dan imut ini banyak diikuti oleh para wanita muda. “Orang paling senang yang bisa di-sling, yang petite dan kalau dipakai lucu, dan tidak berat,” lanjut Marisa. Dia menambahkan tren-tren ini juga banyak dipengaruhi oleh gerakan influencers di media sosial. Selain bentuk tas yang kecil, tas berwarna gelap juga banyak dicari, seperti abu-abu dan biru tua. Padahal sebelumnya warna tas yang sedang tren adalah warna merah.

    Artikel lain: Tas Bermerek Harus Sering Dipakai, Kenapa?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tangis Baiq Nuril, Korban Pelecehan Yang Dipidana

    Kasus UU ITE yang menimpa Baiq Nuril, seorang guru SMAN 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengundang tanda tanya sejumlah pihak.