Rabu, 12 Desember 2018

Bahayanya Gigi Berlubang, Bisa Sebabkan Masalah Jantung

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi sakit gigi. shutterstock.com

    Ilustrasi sakit gigi. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Gigi berlubang bisa menyebabkan masalah kesehatan pada anggota tubuh lainnya. Menurut dokter gigi Bambang Nursasongko masalah kesehatan kondisi ini terjadi jika kuman yang berasal dari gigi berlubang sudah sampai ke saraf gigi lalu menjalar ke organ tubuh lain, seperti jantung.

    Baca juga: Dokter Jelaskan Cara Pakai Pasta Gigi Sensitif yang Tepat

    Bambang Nursasongko mengatakan kalau kuman yang berasal dari gigi berlubang belum sampai ke saraf, masih di jaringan keras tidak menyebabkan penjalaran penyakit. Bila gigi yang berlubang sudah mencapai pulpa atau saraf, penambalan gigi yang selama ini
    menjadi prosedur penanganan gigi berlubang, tak lagi berfungsi. Ibarat tembok, lubang yang terdapat di sana bahkan sudah tak bisa ditutup lagi.

    "Kalau sudah sampai pulpa, pulpa harus dibuang. Pasien dirawat dengan perawatan yang
    namanya saluran akar. Gigi yang sudah kehilangan saraf sama seperti tangan yang sudah tidak peka lagi (sensitif)," tutur Bambang, di Jakarta, Selasa 27 November 2018.

    Agar gigi tak sampai berlubang, perawatan gigi yang benar menjadi prosedur yang wajib harus dilakukan. Mulai dari rajin berkumur menggunakan air, menyikat gigi rutin dua kali sehari hingga membersihkan karang gigi 6 bulan - 1 tahun sekali.

    "Penyakit gigi dan mulut kalau belum parah tidak akan terasa. Di daerah banyak masalah gusi karena kebersihan mulut kurang terjaga. Di kota besar gigi berlubang, banyak makan makanan mengandung gula. Lalu pola perawatan. Masalah gusi terjadi antara lain karena masalah kebersihan mulut, infeksi gusi, karang gigi tidak dibersihkan bertahun-tahun," papar Bambang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.