Ingin Menunda Menopause, Konsumsi Makanan Berikut

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi ikan tuna (pixabay.com)

    ilustrasi ikan tuna (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Bila Anda atau ibu Anda sedang cemas dengan gejala menopause, ada diet yang bisa dilakukan untuk menunda menopause. Menurut The Journal of Epidemology and Community Health, pola makan kaya ikan dan sayur bisa menunda menopause pada perempuan.

    Adapun menopause berkaitan dengan produksi hormon estrogen. Jadi, yang perlu dilakukan untuk menunda menopause adalah memperpanjang masa produksi hormon estrogen.

    Baca juga:
    Tips Perawatan Kulit Saat Memasuki Usia Menopause
    Vagina Kering dan Perubahan Libido, Tanda Menopause akan Datang

    Bahan makanan yang bisa memperpanjang produksi hormon estrogen adalah yang mengandung fitoestrogen, misalnya buah-buahan seperti pepaya, bengkuang, teh hijau, melon, kacang kedelai. Hormon estrogen juga bisa didapatkan dari biji-bijian, gandum, wijen, biji bunga matahari, dan kacang tunggak.

    Studi dari The Journal of Epidemology and Community Health ini juga memantau pada 9.027 perempuan usia 40-65 tahun di Inggris. Selama empat tahun peneliti mendapati tambahan 2,5 ons kacang hijau atau buncis per hari bisa menunda gejala menopause sampai satu tahun. Begitu pula untuk tambahan 3 ons ikan berlemak bisa menunda menopause sampai tiga tahun.

    Tips lain untuk menunda menopause adalah Anda atau orang terkasih perlu menghindari makanan cepat saji karena memiliki kandungan gizi yang tidak seimbang. Apalagi, umumnya dalam makanan cepat saji mengandung kolesterol yang sangat tinggi.

    Artikel lain:
    5 Gejala Menopause dari Fisik Maupun Psikologis
    Asupan Karbohidrat Berlebihan, Awas Menopause Datang Lebih Cepat

    Tak lupa, untuk menunda menopause, sambil diet makanan lakukan juga olahraga secara teratur agar tubuh segar, juga melancarkan peredaran darah, menguatkan tulang, dan membantu produksi hormon.

    Olahraga yang dilakukan juga tidak perlu yang berat selama bisa dilakukan secara rutin dan teratur, misalnya dengan senam, jogging, atau lari pagi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.