Candu Gawai Bisa Bikin Depresi, Cek 6 Gejala Lainnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak depresi/murung. Shutterstock.com

    Ilustrasi anak depresi/murung. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Anak-anak zaman sekarang mungkin lebih senang bermain gawai daripada aktivitas fisik yang sebenarnya lebih sehat. Bahkan banyak anak balita yang sudah kecanduan gawai dan sudah pasti tak baik buat kesehatan fisik dan sosialnya.

    Dengan makin banyaknya jenis gawai dan kemudahan mengakses internet, anak-anak pun ikut terobsesi pada perlengkapan komunikasi ini. Padahal tak ada kebutuhan mendesak anak-anak pada gawai, tidak seperti orang dewasa yang membutuhkannya untuk membantu pekerjaan atau komunikasi dengan relasi atau teman-teman.

    Kepada Live Science, Oren Amitay, seorang psikolog di Toronto, Kanada, menjelaskan betapa buruk pengaruh gawai pada anak-anak. Orang tua yang bijaksana akan menjauhkan anak-anak mereka yang masih kecil dari gawai dan hanya memperbolehkannya sekali-sekali dalam waktu yang terbatas. Apa saja ciri anak yang kecanduan atau terobsesi pada gawai?

    1. Depresi
    Pada sebuah penelitian di 2011, sebanyak 1.000 mahasiswa dari seluruh dunia dites untuk hidup tanpa gawai selama 24 jam. Banyak di antara mereka yang menderita depresi dan kegelisahan akibat tak bertemu “mainan” favorit tersebut. Anak-anak biasanya akan marah, gelisah, atau sedih bisa dijauhkan dari gawai.

    2. Terobsesi
    Sama seperti pecandu heroin, yang semakin hari butuh dosis yang semakin besar, begitu juga dengan pecandu gawai. “Anak-anak awalnya mungkin hanya butuh 10 menit untuk bermain gawai, kemudian menjadi 1 jam, lalu 2 jam,” jelas Amitay.

    3. Kehilangan minat
    Pada awalnya anak-anak senang bermain sepakbola, bercanda dengan saudaranya, memanjat pohon, dan berbagai aktivitas fisik lain yang menyenangkan. Kini, mereka kehilangan semua minat tersebut dan mata hanya tertarik menatap layar gawai.

    4. Kehilangan kontrol
    Para pecandu biasanya tak bisa mengontrol diri mereka walau usianya masih 4 tahun. Bocah seusia itu memang belum bisa mengontrol diri sendiri. Tapi bila orangtua mengontrol dengan cara mengambil tablet yang sedang dimainkan, anak itu akan merajuk. Sudah kewajiban orang tua untuk menetapkan batas.

    5. Suka bersembunyi
    Dulu, anak-anak bersembunyi saat bermain petak umpet. Kini, mereka bersembunyi ketika bermain gawai karena takut ketahuan dan dimarahi orang tua. Anak-anak senang mencuri-curi waktu agar bisa terus berkutat dengan permainan mereka di gawai.

    6. Tak punya perasaan
    Anak-anak yang senang bermain gawai dan tak menunjukkan rasa sedih, stres, atau emosi negative justru bisa jadi berbahaya. Contohnya, ketika anak memenangi perebutan gawai dengan saudaranya, ia akan sibuk berkutat dengan permainannya tanpa rasa bersalah.

    7. Tak suka bersosialisasi
    Tak suka bergaul dan berprestasi buruk di sekolah adalah salah datu dampak kecanduan gawai.

    Menurut Amitay, anak-anak seharusnya lebih banyak mengeksplorasi alam dan lingkungan serta belajar melakukan sesuatu dengan baik sampai mereka lihai melakukannya. Kegiatan seperti itulah yang perlu diberi banyak waktu.

    “Jika orang tua tak berdaya menghadapi bocah 3 tahun, bagaimana menghadapi anak remaja?” ujar Amitay.

    PIPIT

    Baca juga
    4 Cara Mencegah Bibir Kering Saat Berpuasa
    Mencari Pria Impian Sesuai Zodiak Anda
    Qabooli Pulao, Menu Ramadan Khas Asia Tengah



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.