5 Kebiasaan Buruk saat Mandi, Selain Bikin Kulit Kering juga Rentan Infeksi

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mandi. shutterstock.com

    Ilustrasi mandi. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Mandi jadi rutinitas harian yang tak hanya bikin segar, tapi juga membuat tubuh jadi bersih. Tapi tahukah Anda bahwa rutinitas yang tampak menyehatkan ini ternyata bisa membuat kulit kering, gatal, bahkan rentan terhadap infeksi? 

    Masalah tersebut bisa muncul jika melakukan kebiasaan buruk selama mandi. Dilansir dari health.com, Selasa, 9 Februari 2021, berikut lima kebiasaan buruk yang sebaiknya dihindari jika ingin kulit sehat dan terawat. 

    1. Air terlalu panas
    Kulit kering dan gatal? Mandi air panas mungkin menjadi penyebabnya. "Jika ada banyak uap yang keluar, itu tandanya air mandi terlalu panas," kata Melissa Piliang, dokter kulit di Klinik Cleveland. Selain mengeringkan kulit, Piliang mengingatkan bahwa mandi air panas bisa menyebabkan eksim kambuh.

    Jika ingin mandi air hangat, dia menyarankan agar membiarkan air shower menguapi kamar mandi terlebih dahulu baru melangkah. Setelah itu, turunkan suhunya. Dengan cara ini, Anda bisa menikmaiti mandi hangat tanpa berisiko merusak kulit. 

    2. Sabun terlalu keras
    Sebagian orang menyukai perasaan bersih atau kesat setelah menggosok kulit saat mandi. Tapi hati-hati, kadang-kadang sabun dengan bahan antibakteri memiliki formula yang keras sehingga lebih banyak merugikan daripada menguntungkan. 

    Sensasi kesat terjadi saat semua minyak alami telah terangkat dari kulit. Minyak berfungsi sebagai pelindung sekaligus pelumas. Tanpa penghalang itu, kulit malah mudah terpapar air panas, hembusan angin kencang, dan hal lain yang dapat mengeringkan.

    Terlebih lagi, triclosan, bahan antibakteri yang digunakan dalam beberapa sabun, telah dikaitkan dengan masalah kesehatan yang lebih serius. Badan Pengawas Obat Amerika Serikat (FDA) menyatakan bahwa bahan tersebut tidak beracun bagi manusia, tetapi penelitian pada hewan menunjukkan bahwa triclosan dapat mengubah kadar hormon. Studi laboratorium lain telah mengaitkan bahan kimia tersebut dengan kontribusi terhadap perkembangan resistensi antibiotik.

    Piliang tidak merekomendasikan menggunakan sabun antibakteri di kamar mandi dan mencari produk yang bebas pewangi dan mengandung pelembap tambahan. Kulit setiap orang berbeda, jadi mungkin perlu mencoba beberapa produk berbeda untuk menemukan yang tepat untuk Anda.

    Baca juga: Mandi Setelah Olahraga Sebaiknya Pilih Air Dingin atau Hangat?

    3. Menggosok terlalu keras
    Jika kulit tak tertutup kotoran setelah bekerja di luar sepanjang hari, tak perlu menggosok terlalu keras. Satu-satunya tempat yang membutuhkan sabun utama adalah ketiak dan selangkangan. Selain itu, air saja sebenarnya sudah cukup. 

    Selain minyak alami, kulit juga dipenuhi oleh bakteri baik yang sangat penting untuk kesehatan kulit. Menggosoknya, meskipun dengan sabun lembut, masih bisa menghilangkan bakteri menguntungkan. 

    4. Tidak membersihkan pisau cukur
    Suka mandi sambil bercukur? Jangan lupa membersihkan pisau cukur. Alat ini dapat mengumpulkan bakteri dari kulit yang kemudian berkembang biak saat disimpan di tempat lembap seperti kamar mandi.  

    “Pisau cukur akan membuat robekan yang sangat mikroskopis pada kulit yang dapat menjadi pintu masuk bakteri atau jamur,” kata Piliang.

    Pastikan juga pisau tajam dengan menggantinya seminggu sekali. Pisau tumbul lebih berisiko menyebabkan luka kecil. 

    Baca juga: Awas, Keseringan Mandi Ternyata Tidak Baik untuk Kesehatan Kulit

    5. Pakai sandal saat mandi di kamar mandi umum
    Kamar mandi bersama, seperti di asrama atau gym, mungkin jadi tempat tumbuhnya jamur penyebab kurap atau tinea pedis. Jadi, Piliang memperingatkan selalu mengenakan sandal saat mandi.

    "Mengenakan sepatu mandi atau sandal jepit saat keluar masuk kamar mandi dapat membantu menghindari masalah kulit ini," kata dia. 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.