7 Mitos Keperawanan, Faktanya Tak Semua Wanita Punya Selaput Dara

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi keperawanan. shutterstock.com

    Ilustrasi keperawanan. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Konsep keperawanan wanita masih dipenuhi oleh mitos yang tidak tepat, terutama dari sisi kesehatan. Masih sangat banyak orang yang salah kaprah mengenai keperawanan wanita, mulai dari soal selaput dara hingga darah yang keluar saat malam pertama.

    Padahal, itu bukanlah hal abstrak yang sulit diketahui kebenaranannya. Soal keduanya adalah murni pengetahuan kesehatan yang seharusnya dipahami, baik oleh para remaja maupun orangtua.

    Berikut ini mitos tentang keperawanan wanita dan fakta ilmiah di baliknya.

    1. Mitos selaput dara yang rapat menandakan keperawanan
    Tahukah Anda jika selaput dara perempuan tidak benar-benar tertutup? Dalam kondisi normal, selaput dara memang memiliki lubang berbentuk seperti bulan sabit. Selaput dara yang terlalu rapat atau bahkan benar-benar tertutup, justru menandakan adanya kelainan. Selaput dara yang tertutup seluruhnya yang menghalangi vagina disebut hymen imperforata. Kondisi ini menyebabkan darah menstruasi tidak bisa keluar dari dalam vagina, dan membuat penderitanya mengalami sakit punggung dan perut setiap menstruasi akibat tumpukan gumpalan darah menstruasi.

    Sementara selaput dara dengan bukaan yang terlalu kecil, disebut microperforate hymen. Pada vagina yang mengalami kondisi ini, darah menstruasi tetap bisa keluar namun bisa saja sedikit sulit. Wanita yang selaput daranya tertutup atau hanya punya sedikit pembukaan, perlu dioperasi agar lubang bukaannya lebih besar, dan memungkinkan darah menstruasi keluar dengan lancar.

    2. Mitos saat pertama kali berhubungan seks, perempuan pasti berdarah
    Perlu diketahui bahwa tidak semua wanita pasti berdarah saat pertama kali berhubungan seksual. Perdarahan memang bisa saja terjadi. Namun, itupun biasanya terjadi pada wanita yang bukaan selaput daranya terlalu kecil atau apabila hubungan seksual dilakukan di usia belia.

    Selaput dara bukan terbuat dari batu atau beton. Selaput dara adalah organ yang elastis sehingga meski ada penetrasi ke vagina, ia bisa saja tidak sobek dan berdarah. Ukuran, bentuk, dan kondisi selaput dara pun bisa berbeda pada tiap wanita, sehingga tidak bisa disamakan oleh satu standar turun-temurun yang ternyata salah secara medis.

    3. Mitos perempuan pasti merasakan sakit saat malam pertama
    Lagi-lagi, tidak semua perempuan akan merasakan sakit saat malam pertama. Jadi jika saat pertama kali berhubungan seksual rasa sakit tidak muncul, bukan berarti ia sudah terbiasa atau sudah pernah melakukannya sebelumnya.

    Lagipula, rasa sakit yang timbul saat pertama kali berhubungan seksual bukan perkara sobeknya selaput dara. Beberapa hal yang membuat seorang perempuan merasa kesakitan atau tidak nyaman saat pertama kali berhubungan seks di antaranya:

    - Melakukan hubungan seksual untuk yang pertama kalinya bisa membuat tegang, sehingga otot-otot di sekitar vagina menjadi lebih kencang, dan membuat penetrasi terasa sakit dan tidak nyaman.
    - Penetrasi dilakukan saat vagina belum terlalu basah karena kurangnya foreplay. Vagina secara alami akan mengeluarkan pelumasnya untuk membuat seks terasa lebih mudah.
    - Vagina menjadi kering akibat konsumsi obat tertentu atau karena ada kondisi kesehatan tertentu.
    - Alergi pelumas atau lateks yang menjadi bahan dasar kondom.

    4. Mitos selaput dara robek artinya sudah berhubungan seksual
    Tak hanya penetrasi seksual, ada banyak hal yang bisa menyebabkan perubahan bentuk selaput dara wanita. Misalnya menunggang kuda, mengendarai sepeda, memanjat pepohonan, senam, berdansa, dan bermain halang rintang.

    Anda juga perlu tahu bahwa beberapa perempuan mungkin sudah melalui proses penetrasi vagina tanpa berhubungan seksual. Prosedur medis seperti pemeriksaan usg transvaginal atau menjalani langkah pencegahan kanker serviks dengan pap smear juga memerlukan penetrasi ke vagina menggunakan peralatan medis.

    5. Mitos semua perempuan pasti punya selaput dara
    Berbeda dari kepercayaan banyak orang, tidak semua perempuan memiliki selaput dara. Perempuan yang tidak memilikinya pun umumnya tidak akan merasakan gejala apapun. Sebab, selaput dara sendiri bukanlah organ penting yang memiliki fungsi khusus di tubuh. Jadi, jika seorang perempuan lahir tanpa selaput dara, apakah ia bisa disebut tidak perawan? Tentu tidak.

    6. Mitos pecah perawan pasti dengan penetrasi penis ke vagina
    Hubungan seks tidak hanya bisa dilakukan dengan penetrasi penis ke vagina. Seks anal dan seks oral pun bisa dianggap sebagai hubungan seks. Sehingga, konsep pecah perawan pun bisa berbeda tiap orangnya. Ada yang sudah pernah melakukan oral seks dengan pasangannya dan menganggap dirinya masih perawan. Sebaliknya, ada juga yang menganggap dirinya sudah tidak perawan saat sudah melakukan oral seks. Hal yang sama juga berlaku pada anal seks. Jadi bisa disimpulkan bahwa keperawanan wanita bukan hanya seputar selaput dara. Masalah seksual, selalu lebih dalam daripada itu.

    7. Mitos operasi selaput dara bisa mengembalikan keperawanan
    Definisi keperawanan wanita yang kabur, membuat sebagian orang rela menjalani operasi selaput dara demi bisa kembali perawan. Jadi, apa itu sebenarnya keperawanan? Perempuan yang selaput daranya belum sobek atau perempuan yang belum pernah melakukan hubungan seksual?

    Apapun itu, secara biologis kita sudah tahu bahwa istilah sobeknya selaput dara tidak tepat. Operasi rekonstruksi selaput dara sendiri di dunia kedokteran internasional masih sering menjadi perdebatan. Sebab secara medis, prosedur ini tidak memberikan manfaat apapun dan dilakukan dengan dasar norma sosial dan budaya.

      

    SEHATQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.