Menyusui dalam Kondisi Darurat, Tenangkan Bayi dan Cegah Hiportemia

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mengungsi di dalam mobil saat banjir di kawasan Kampung Baru, Kembangan, Jakarta Barat, Kamis 2 Januari 2020. Banjir yang terjadi sejak, Rabu 1 Januari 2020 tersebut masih merendam kawasan itu dan hingga kini belum ada bantuan dan masih banyak warga serta anak-anak yang terjebak di dalam rumahnya. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

    Warga mengungsi di dalam mobil saat banjir di kawasan Kampung Baru, Kembangan, Jakarta Barat, Kamis 2 Januari 2020. Banjir yang terjadi sejak, Rabu 1 Januari 2020 tersebut masih merendam kawasan itu dan hingga kini belum ada bantuan dan masih banyak warga serta anak-anak yang terjebak di dalam rumahnya. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Jakarta - Banjir yang beberapa wilayah Ibu Kota Jakarta dan sekitarnya di awal tahun 2020 memaksa beberapa warga untuk mengungsi. Kondisi ini memicu gangguan kesehatan, terlebih bagi bayi dan balita yang masih rentan terhadap penyakit. 

    Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia atau AIMI Nia Umar mengimbau agar bayi tetap mendapatkan ASI dari ibunya untuk menenangkan bayi. ASI memiliki antibodi untuk melawan penyakit termasuk diare. ASI juga bersih dan aman saat dalam keadaan darurat. ASI tetap mengandung nutrisi yang cukup pada bayi dan anak.

    "Jadi sebenarnya dalam kondisi darurat menyusui bisa menyelamatkan dan menenangkan bayi yang sedang dalam kondisi dengan nyaman. Kalau bayi dalam posisi menyusui di dada ibu, dia tidak akan terpengaruh karena tetap tenang," ucap Nia saat dihubungi Tempo, Jumat 3 Januari 2020.

    Manfaat lain menyusui dalam kondisi darurat ialah dapat melepaskan hormon untuk mengatasi stres pada ibu dan bayi. Selain itu juga memberi kehangatan pada bayi sehingga bisa terhindar dari bahaya hipotermia.

    Perlu diketahui juga jika ibu menyusui membutuhkan dukungan psikis dan sarana agar menyusui dengan nyaman. Salah satu dukungan bisa didapat dari para tenaga kesehatan yang tetap melakukan pendampingan dan memahami mereka agar mereka bisa berkonsultasi langsung.

    "Biasanya ibu dalam kondisi darurat saat bencana dan di pengungsian rentan dengan kepanikan dan tenang, jadi kehadiran tenaga kesehatan memang sangat mereka butuhkan. Ada interaksi one on one, dan tantangan lainnya adalah lokasi menyusui di pengungsian kan tidak ideal, sebab lebih nyaman bagi ibu ketika menyusui ada ruang khusus yang sesama ibu menyusui bisa dalam satu ruangan," tandasnya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.