Kekurangan dan Kelebihan Menggunakan Menstrual Cup

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mesntrual cup. Pixabay.com

    Mesntrual cup. Pixabay.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Menstrual cup produk kesehatan feminin yang dapat digunakan berkali-kali, semakin populer. Bentuknya seperti cangkir kecil atau corong yang terbuat dari karet atau silikon. Cara menggunakannya, masukkan menstrual cup ke dalam vagina untuk mengumpulkan cairan saat sedang haid.

    Baca juga: Mau Beralih Coba Menstrual Cup, Pahami Risiko Kesehatannya

    Menstrual cup bisa menahan lebih banyak darah dibanding metode lain. Banyak wanita untuk menggunakannya sebagai pengganti softex dan tampon yang sekali buang. Seringkali, menstrual cup bisa digunakan sampai 12 jam sebelum diganti.

    Melansir laman Healthline, menggunakan menstrual cup memang bisa menjadi berantakan. Menstrual cup, terutama untuk orang yang belum terbiasa, memang sulit  saat menggunakan dan melepasnya. Biasanya kesulitan saat menemukan posisi yang tepat untuk memasukkannya. Selain itu, menstrual cup juga memiliki berbagai ukuran, jadi harus mencoba beberapa terlebih dahulu sebelum menemukan yang sesuai.

    Material dari silikon atau karet juga memiliki risiko alergi. Jadi, Anda perlu memperhatikan bahan sebelum memilih jenis menstrual cup. Karena menstrual cup adalah produk kesehatan feminni yang bisa digunakan berkali-kali, berarti harus rutin dibersihkan dan disimpan dengan cara higenis. Kalau Anda tidak membersihkannya dengan benar, menstrual cup bisa menyebabkan iritasi.  

    Meski begitu, banyak juga kelebihan dari menggunakan menstrual cup. Metode ini dapat mengemat banyak uang, tidak perlu membeli pembalut atau tampon setiap kali haid. Menstrual cup juga lebih ramah lingkungan, karena dapat digunakan kembali dan dapat bertahan lama. Dengan menggunakan menstrual cup, Anda mengurangi limbah pada lingkungan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.