Rabu, 12 Desember 2018

3 Alasan Kamu Harus Berhenti Mengomentari Berat Badan Orang Lain

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bergosip. shutterstock.com

    Ilustrasi bergosip. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta -  Kebiasaan mengomentari berat badan orang lain dapat berdampak sangat besar bagi orang tersebut. Kita hidup dalam budaya yang mengagungkan tubuh yang sehat dengan berat badan ideal, sehingga komentar-komentar mengenai berat badan sudah menjadi hal lumrah terdengar dalam keseharian. 

    Baca juga: Cardi B Depresi Tak Bisa Berhenti Menurunkan Berat Badan

    “Ih gendutan ya!’, “kurus banget sih kamu?”,“diet dong, kamu kegendutan!”, atau komentar lain yang berkaitan dengan berat badan. Problemnya adalah secara tidak sadar komentar-komentar ini sebetulnya berdampak buruk pada orang yang dikomentari. Orang tersebut tidak hanya sakit hati, tetapi bisa juga mengalami kondisi yang tidak diduga misalnya rusaknya citra diri, terlukanya harga diri, atau problem mental lainnya. Mengutip laman Huffington Post, inilah alasan mengapa kita harus berhenti mengomentari berat badan orang lain.

    1. Berat badan seseorang tidak selalu menggambarkan kehidupannya
    Bertemu dengan teman atau kerabat adalah ajang untuk berbagi cerita tentang kehidupan dan hal bermakna lainnnya, bukannya untuk mengomentari berat dan bentuk tubuh. Kita tidak bisa menggambarkan kehidupan orang lain melalui berat badannya, hal itu sangatlah dangkal. Tidak selamanya hidup orang dipresentasikan dengan berat badannya. Masih banyak hal lain yang jauh lebih berarti yang bsisa dibicarakan selain dari berat badan.

    2. Banyak orang mengalami gangguan makan (eating disorder), mengomentari soal berat badan dan makanan bisa memperburuk keadaannya
    Hanya karena tidak ada orang di sekitar Anda yang terbuka bahwa dia mengalami masalah gangguan makan, bukan berarti hal itu tidak terjadi. Faktanya banyak orang yang menderita masalah ini sehingga komentar soal berat badan dan diet sangat mungkin memperburuk situasi berat yang sedang dirasakannya. Mereka umumnya merasa lebih rendah diri dan sulit menerima dirinya sendiri.

    3. Komentar itu bisa disalahartikan
    Walaupun tujuan komentar itu adalah benar-benar karena kepedulian akan kesehatan seseorang, tetap saja komentar ini sangat mungkin disalahartikan. Apalagi orang yang gemuk atau orang yang sangat kurus sudah diberikan stigma yang negatif oleh masyarakat. Pada umumnya komentar soal berat badan akan sejalan dengan stigma negatif tersebut. Itulah sebabnya kita harus berhenti mengomentari berat badan seseorang secara sembarangan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.