Tips Menghadapi Body Shaming dari Psikolog Tara de Thouars

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi tubuh wanita langsing. Shutterstock

    Ilustrasi tubuh wanita langsing. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Penampilan fisik seringkali menjadi fokus pertama seseorang saat bertemu dengan orang lain. Tentunya tidak ada orang yang ingin mendengar komentar negatif mengenai penampilan fisik mereka atau body shaming. Tapi kita tidak bisa mengontrol ucapan dan perilaku orang-orang di sekitar. Kita hanya bisa mengendalikan cara kita dalam menanggapi komentar negatif mengenai penampilan fisik.

    Baca juga:
    Ini yang Dilakukan Jika Mengalami Body Shaming oleh Orang Tua

    Psikolog Klinis di RSJ Sanatorium Dharmawangsa, Tara de Thouars mengatakan terkadang orang memberi komentar mengenai fisik orang lain karena hanya ingin menilai sesuatu yang bisa mereka lihat. Komentar seperti “Eh, agak gemuk ya!” atau “Aduh, kurus banget sekarang,” adalah hal-hal yang seringkali diucapkan bukan karena memiliki niat buruk atau ingin mengejek.

    “Jangan terlalu menganggap serius jika mendengar komentar seperti ini karena hanya membuang energi saja,” kata Tara de Thouars di Eastern Opulence, Jakarta Selatan, Selasa 25 September 2018. Intinya, jangan sampai komentar negatif orang lain membuat kita merasa tidak percaya diri.

    Tara de Thouars, Psikolog Klinis di RSJ Sanatorium Dharmawangsa dan Penulis Buku Dear Me! di Eastern Opulence, Jakarta Selatan, Selasa 25 September 2018 (Tempo/Astari P Sarosa)

    Cara lain yang dapat dilakukan supaya tebal kuping pada body shaming adalah dengan mendekatkan diri kepada orang-orang yang berbeda. Misalnya, memperhatikan selebriti dengan bentuk badan dan warna kulit yang beragam atau teman-teman yang ada di sekeliling kita.

    “Harus melihat kecantikan yang beragam agar filter atau standar kecantikan yang ada di kepala berubah. Dengan cara sederhana itu, kita bisa memahami kata cantik dari perspektif yang berbeda,” lanjut Tara de Thouars.

    Artikel lainnya:
    Cara Candice Swanepoel Melawan Body Shamming setelah Melahirkan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.