Selasa, 20 November 2018

Bukan Susu Kental Manis Penyebab Obesitas tapi Hal-hal Ini

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Susu kental manis. Finecooking.com

    Susu kental manis. Finecooking.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah pakar gizi menegaskan sampai saat ini tidak ada bukti ilmiah bahwa susu kental manis (SKM) menyebabkan berbagai masalah, seperti kegemukan dan diabetes. Berbagai penyakit tidak menular tersebut umumnya disebabkan banyak faktor.

    Ir. Achmad Syafiq MSc. PhD, Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menjelaskan bukti meyakinkan mengenai pemicu risiko kegemukan adalah rendahnya aktivitas fisik, rendahnya asupan serat, dan tingginya asupan energi harian total.

    “Jadi bukan dari satu jenis pangan,” kata Syafiq.

    Artikel terkait:
    Susu Kental Manis Aman Dikonsumsi, tapi Ada Syaratnya
    Kadar Gula Tinggi, Biang Keladi Kontroversi Susu Kental Manis

    Berbagai hasil penelitian menunjukkan penyebab kegemukan pada anak usia sekolah bukan akibat konsumsi makanan berisiko (gula, garam, lemak, berpengawet), melainkan kurangnya aktivitas fisik. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat, berdasarkan pemeriksaan gula darah, diabetes melitus naik dari 6,9 persen menjadi 8,5 persen. Kenaikan prevalensi ini berhubungan dengan pola hidup, antara lain merokok, konsumsi minuman beralkohol, aktivitas fisik, serta konsumsi buah dan sayur.

    Peneliti dari Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP), Dr. drg. Amaliya, mengatakan, upaya pemerintah mengatasi berbagai masalah kekurangan gizi di Indonesia perlu diapresiasi. Riskesdas 2018 telah menunjukkan perbaikan status gizi balita di Indonesia.

    ilustrasi susu (pixabay.com)

    Proporsi status gizi sangat pendek dan pendek turun dari 37,2 persen (Riskesdas 2013) menjadi 30,8 persen. Demikian juga proporsi status gizi buruk dan gizi kurang turun dari 19,6 persen (Riskesdas 2013) menjadi 17,7 persen.

    Menurut dia, sangat penting seluruh pemangku kepentingan bersatu dan bekerja sama mengatasi permasalahan gizi di Indonesia. Salah satunya dengan meningkatkan konsumsi susu dalam kehidupan sehari-hari.

    Susu dan produk olahannya memiliki kandungan protein, lemak, dan vitamin yang sangat dibutuhkan guna mendukung perkembangan seseorang di setiap tahap kehidupan. Namun, konsumsi susu di Indonesia masih sangat rendah.

    Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi susu masyarakat Indonesia pada 2017 hanya berkisar 16,5 liter/kapita/tahun, sangat rendah dibandingkan negara ASEAN lain sesuai data USDA Foreign Agricultural Service 2016, seperti Malaysia (50,9 liter), Thailand (33,7 liter), dan Filipina (22,1 liter).

    Sampai saat ini, salah satu yang berandil besar terhadap konsumsi susu di masyarakat adalah susu kental manis. Akan tetapi, pandangan sebagian pihak mengenai susu kental manis, terutama menyangkut kandungan gula dan susu masih kurang tepat sehingga memicu polemik.

    Baca juga:
    Gula pada Susu kental Manis Tak Perlu Ditakuti, Cek Alasannya
    Kemenkes Ingatkan Produk Kental Manis Bukan Susu untuk Anak

    Untuk meluruskan berbagai perbedaan pandangan itu, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan Peraturan (Perka) Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan. Peraturan ini mewajibkan label produk susu kental manis mencantumkan keterangan “Perhatikan! Tidak untuk menggantikan Air Susu Ibu; Tidak Cocok untuk Bayi sampai usia 12 bulan; dan Tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya sumber gizi”.

    Peraturan 31/2018 juga menegaskan susu kental manis sebagai produk susu, sejalan dengan Peraturan Kepala BPOM Nomor 21 tahun 2016 tentang Kategori Pangan.

    “Dalam aturan tersebut menyimpulkan susu kental manis adalah susu dan konsumsinya perlu memerhatikan aturan BPOM,” kata Amaliya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Sisi Gelap Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman

    Kasus pembunuhan Jamal Khasoggi yang diduga dilakukan oleh Kerajaan Arab Saudi membuat dunia menyorot empat sisi gelap Mohammed bin Salman.