Selasa, 20 November 2018

Penyakit Jantung Bawaan pada Anak, Membiru Dianggap Kerasukan

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bayi. telegraph.co.uk

    Ilustrasi bayi. telegraph.co.uk

    TEMPO.CO, JakartaPenyakit jantung bawaan menjadi salah satu sorotan para dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di Indonesia. Ini karena masih banyak beragam kendala yang dihadapi dalam penata laksanaannya.

    Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di rumah sakit Harapan Kita, Oktavia Lilyasari, mengungkapkan ada beberapa masalah mengapa penyakit ini penting dan menjadi sorotan. "Sangat mempunyai masalah besar bila mengalami penyakit jantung bawaan di Indonesia karena kebanyakan masyarakat berasal dari sosial ekonomi yang lemah," ujarnya, belum lama ini.

    Artikel lainnya: Jangan Abaikan Tanda-tanda Ini, Bisa Jadi Penyakit Jantung 

    Oktavia melanjutkan, faktor kedua adalah pendidikan yang rendah, sehingga banyak yang tidak mengerti kalau anak membiru malah berpikirnya karena kerasukan. Mereka tidak berpikir bahwa itu adalah penyakit jantung bawaan. Ada juga ibu yang meskipun sudah melihat kondisi anaknya sejak lahir seperti itu tetapi tidak menindak lanjuti ke dokter karena merasa kasihan. "Anak saya masih bayi, entar aja deh, sampai kemudian si anak menjadi besar dan tidak bisa dilakukan operasi lagi," ujarnya.

    Masalah selanjutnya adalah kesulitan akses. Dokter Okta menuturkan, Indonesia adalah negara kepulauan yang dipisahkan oleh laut dan kondisi ini sering menyulitkan masyarakat menjangkau fasilitas kesehatan yang memadai. "Saya sering mendapat pasien dari Sumatra yang mengatakan jarak tempuh dari rumahnya ke bandara sampai lebih dari 10 jam," ucapnya.

    Baca juga: Dokter Spesialis Ungkap Mitos Seputar Penyakit Jantung

    Sedangkan tata laksana penyakit jantung bawaan tidak dapat dikerjakan oleh setiap fasilitas kesehatan, kebanyakan dikirim ke rumah sakit jantung Harapan Kita. Mulai dari pedalaman Papua sampai pedalaman Aceh, semua dikirim ke rumah sakit Harapan Kita, Jakarta.

    Persoalan yang lain adalah tidak adanya asuransi kesehatan. Dulu masyarakat kita lebih banyak yang tidak punya asuransi kesehatan. Bagi yang punya, coba lihat di formulir pasti ada kolom "punya penyakit bawaan?" Kalau dicontreng, tidak akan ada satu pun asuransi swasta yang mau menjamin sehingga penderitanya harus bayar sendiri. Hanya Yayasan Jantung Indonesia atau pihak swasta lain yang memberi bantuan kepada penderita jantung bawaan.

    Banyak pasien yang menderita penyakit jantung bawaan yang dulu tidak punya biaya, penanganannya menjadi tertunda. Namun karena sekarang sudah ada BPJS maka kasus ini mulai banyak bermunculan atau diketahui. Masalah berikutnya adalah keterbatasan sarana dan prasarana. Tidak semua fasilitas kesehatan di daerah bisa mengerjakan pelayanan jantung koroner, padahal penyakit jantung bawaan biasanya harus dilakukan intervensi, baik bedah ataupun non-bedah.

    Baca juga: 6 Gejala Serangan Jantung yang Kerap Diabaikan

    Selain itu, keterbatasan SDM juga menjadi sorotan. Untuk melakukan penata laksanaan penyakit jantung bawaan, diperlukan SDM satu tim. Harus ada juga dokter bedah jantung, jantung intervensi, anastesi, dan lainnya. Dengan masalah-masalah di atas besar kemungkinan diterbitkannya rujukan dari daerah. Jika dirujuk, maka terbuka kemungkinan akan terlambat dilakukan tata laksana sehingga meningkatkan risiko kematian.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    21 November, Hari Pohon untuk Menghormati Julius Sterling Morton

    Para aktivis lingkungan dunia memperingati Hari Pohon setiap tanggal 21 November, peringatan yang dilakukan untuk menghormati Julius Sterling Morton.