Penyakit Ginjal Kronis Sering Terlambat Terdeteksi. Cek Gejalanya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi ginjal

    Ilustrasi ginjal

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Kesehatan menilai semakin banyaknya penderita penyakit ginjal kronis di Indonesia dan dunia sudah sampai pada kondisi yang mengkhawatirkan. Kepala Sub Direktorat Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, Kementerian Kesehatan dr. Zamhir Setiawan mengungkapkan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemkes mencatat beberapa data dan fakta terkini nengenai perkembangan penyakit ginjal kronis.

    "Faktanya adalah penyakit gagal ginjal kronis sudah menjadi penyebab kematian nomor 18 di dunia," katanya.

    Kemudian, lanjutnya, berdasarkan data dari Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan (PPJK), biaya yang dihabiskan untuk tindakan hemodialisa atau biasa disebut dengan cuci darah mencapai Rp227 miliar dalam lima tahun terakhir. Selain itu, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) terakhir yang dilakukan pada 2013, disimpulkan bahwa dua dari 1.000 penduduk Indonesia menderita gagal ginjal.

    Dan data yang paling dekat adalah dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada 2016 yang mencatat penyakit gagal ginjal telah menelan biaya hingga Rp2,4 triliun. Penyakit gagal ginjal juga sudah diberi status sebagai penyakit katastropik nomor dua setelah jantung.

    Dokter Zamhir menjelaskan, penyakit ginjal adalah kelainan organ ginjal yang timbul akibat berbagai faktor dan biasanya muncul secara perlahan serta bersifat menahun. Sulitnya, penyakit ini pada awalnya tidak ditemukan gejala yang khas sehingga sering terlambat diketahui.

    Baca juga:
    Penyebab Perempuan Rentan Terkena Penyakit Ginjal
    Wanita Lebih Rentan Alami Penyakit Ginjal, Dampaknya pun Beragam
    Memahami Sindrom Kardiorenal, Bukan Penyakit Jantung Biasa

    Adapun faktor-faktor risiko menderita penyakit ini adalah mereka yang memiliki riwayat keluarga berpenyakit ginjal, lahir prematur, trauma di daerah abdomen, serta memiliki jenis-jenis penyakit tertentu, seperti Lupus, Aids, Hepatitis C, dan lainnya. Mereka yang terkena akan mengalami gejala-gejala berupa tekanan darah tinggi, perubahan frekuensi dan jumlah buang air kecil, adanya darah dalam urine, lemah, serta sulit tidur.

    Gejala lainnya seperti kehilangan nafsu makan, sakit kepala, tidak dapat berkonsentrasi, gatal, sesak, mual dan muntah, serta mengalami pembengkakan terutama pada kaki dan pergelangan kaki. Kelopak mata juga bisa mengalami pembengkakan pada waktu pagi hari.

    Karena itu, dia mengimbau masyarakat untuk melakukan pemeriksaan ginjal sejak dini, yakni melalui darah dan urine, pada fasilitas-fasilitas kesehatan seperti Puskesmas dan rumah sakit. Selain pemeriksaan, masyarakat juga diimbaunya untuk tidak merokok, rajin berolahraga, melakukan diet dengan kalori yang seimbang, beristirahat yang cukup, mengelola stres, dan minum air putih sebanyak 8-10 gelas setiap hari.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.