Rabu, 12 Desember 2018

Filler Makin Diminati, Tompi Ingin Regulasi yang Tegas

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi fillers. Shutterstock

    Ilustrasi fillers. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyanyi sekaligus dokter bedah plastik Tompi mengunggah soal filler hidung yang terlalu berlebihan di Instagram-nya. Dalam unggahannya itu, Tompi menjelaskan filler yang terlalu banyak jutsru membuat bentuk hidung semakin besar melebar.

    Sebenarnya, menurut Tompi bukan hal yang berbahaya melakukan filler pada hidung, namun harus dilakukan sesuai dengan aturan. Dia ingin memberikan edukasi untuk yang menyuntikkan filler dan juga untuk pasien.

    Baca juga: Filler, Cantik Instan tanpa Rasa Sakit

    Lebih lanjut, anggota Trio Lestari itu mengatakan, dengan banyaknya pelaku dan pasien filler dia berharap ada regulasi yang tegas. Karena menurutnya, hampir semua pasien yang jadi korban itu biasanya berangkat dari ketidaktahuan dari dua hal. "Satu mereka nggak tahu nanya kemana, kedua mereka begitu udah kejadian bingung juga mau nyari pertolongan ke siapa," ujar Tompi.

    Baca juga: Mau Coba Teknik Kecantikan Filler, Ketahui Plus Minusnya

    Dia berharap semua klinik kecantikan bisa melakukan filler sesuai prosedur agar tak jadi masalah di kemudian hari. Dia pun mencontohkan penyuntikkan filler yang tak sesuai dengan prosedur.

    "Yang ke saya tuh biasanya yang dateng yang disuntik buat ngilangin kantung mata, padahal nggak cekung, biar rata di-filler, kan aneh, itu yang keliru. Pasien yang begitu biasanya dateng ke klinik kita dengan keluhan, ini ada bejolan, harus kita bongkar buka baru kita bersihin dari dalam, kan jadi besar operasinya, cuman gara-gara tindakan kecil yang keliru dan itu sering," ungkap pria 39 tahun tersebut.

    Baca juga: Trik 'Filler' Bibir Krisdayanti Tanpa Efek Samping

    AURA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.