Prosedur Tukar Cairan atau CAPD untuk Pasien Gagal Ginjal

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan pasien gagal ginjal dari keluarga miskin di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, mendatangi gedung DPRD Kabupaten Madiun, Jumat (3/8). TEMPO/Ishomuddin

    Puluhan pasien gagal ginjal dari keluarga miskin di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, mendatangi gedung DPRD Kabupaten Madiun, Jumat (3/8). TEMPO/Ishomuddin

    TEMPO.CO, Jakarta - Salah satu pilihan perawatan bagi pasien gagal ginjal adalah Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis atau CAPD. Dengan terapi ini, pasien tak perlu melakukan cuci darah, melainkan menggunakan 'selaput perut' untuk membersihkan darah sepanjang hari.

    Baca juga:
    Tak Kenal Maka Tak Sayang Ginjal, Pahami Fungsinya
    Pasien Ginjal Harus Moving On, Merdeka Memilih Terapinya
    Wanita Lebih Rentan Alami Penyakit Ginjal, Dampaknya pun Beragam

    Dokter Spesialis Ginjal dan Hipertensi, Jonny mengatakan masih banyak pasien gagal ginjal yang belum mengetahui metode Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis atau CAPD. Dialisis dapat dilakukan di mana saja, relatif nyaman, dan pasien tidak perlu datang ke rumah sakit beberapa kali dalam seminggu. Dengan begitu, pasien gagal ginjal tetap bisa beraktivitas seperti biasa.

    "Perawatan CAPD ini lebih simpel dan tidak kelihatan karena alatnya kecil," kata Jonny di acara Meningkatkan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Dengan Perawatan CAPD di Jakarta, Minggu 5 November 2017. Dia menjelaskan proses pergantian cairan dilakukan empat kali sehari di tempat yang bersih, namun tidak perlu steril.

    Pergantian cairan dapat dilakukan di kantor, sekolah, terutama di mana ada meja bersih. Selama pertukaran cairan, alat dialisat yang baru dimasukkan ke dalam rongga peritoneum, membran serosa rangkap yang terbesar di dalam tubuh, melalui kateter.

    Cairan kemudian didiamkan dalam rongga peritoneum selama beberapa jam. Biasanya di pagi, siang, sore, dan malam. Dialisat yang telah digunakan kemudian dikeluarkan melalui kateter, kemudian dialisat yang baru dimasukkan kembali. Proses tersebut dilakukan setiap hari.

    Monalisa Theresia, pasien gagal ginjal sedang melakukan cuci darah menggunakan proses Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysys (CAPD) dikediamannya dikawasan Cibinong, Jakarta, Jumat (28/3). Tempo/Aditia Noviansyah

    Ada beberapa keuntungan dari CAPD dibanding terapi lain. Pertama, kelangsungan hidup lebih baik daripada hemodialisis pada tahun-tahun pertama, dan penularan hepatitis B dan C juga dapat diminimalisir karena proses ini tidak berkaitan dengan darah. Pasien juga lebih bisa mengontrol diri sendiri atau memiliki kebebasan, dari diet sampai aktivitas sehari-hari. Terapi CAPD juga tidak menggunakan mesin dan tidak ada tusukan jarum.

    "Kami percaya dengan perawatan yang tepat, setiap pasien gagal ginjal dapat meningkatkan kualitas hidup mereka dan menjadi lebih produktif," kata Tony Samosir, Ketua Komunitas Paien Cuci Darah Indonesia. Tony dan Jonny mengatakan jika setiap pilihan terapi dijelaskan secara gamblang kepada pasien gagal ginjal, maka mereka dapat memilih metode terapi yang paling cocoknya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akhir Cerita Cinta Glenn Fredly

    Glenn Fredly mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 8 April 2020 di RS Setia Mitra, Jakarta. Glenn meninggalkan cerita cinta untuk dikenang.