Donita Melasik Mata karena Minus 6, Ketahui 4 Tahap Pemeriksaan

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Selebriti Donita ditemui saat menghadiri peluncuran kerjasama online store BliBli.com dengan Mums and Babes di kawasan Pakubuwono, Jakarta, 20 Juni 2016. Donita tampil cantik dengan bentuk tubuh yang ramping meski 7 bulan lalu baru melahirkan anak pertamanya. TEMPO/Nurdiansah

    Selebriti Donita ditemui saat menghadiri peluncuran kerjasama online store BliBli.com dengan Mums and Babes di kawasan Pakubuwono, Jakarta, 20 Juni 2016. Donita tampil cantik dengan bentuk tubuh yang ramping meski 7 bulan lalu baru melahirkan anak pertamanya. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Donita memutuskan operasi lasik untuk menghilangkan minus enam di matanya. Dia merasa terganggu dengan masalah penglihatannya itu. Donita juga merasakan banyak hal kurang menyenangkan karena mata minusnya. Saat dia tidak berkacamata dan tidak memakai lensa kontak, Donita sulit melihat wajah orang di sekitarnya.

    Baca juga:
    Bahaya Mata Minus Tinggi pada Ibu yang Melahirkan, Retina Lepas
    Alasan Mata Harus Diistirahatkan Setelah 2 Jam Menatap Komputer

    Kendati ada orang yang tersenyum kepadanya, Donita hanya memasang wajah datar karena tak melihat dengan jelas. "Aku sering dibilang sombong, karena enggak pakai kacamata enggak pakai softlens, enggak terlihat wajah orang. Jadi jalan lewat saja," kata Donita di Jakarta Selatan, Sabtu 14 Oktober 2017.

    Tak hanya itu, Donita juga pernah mengalami kejadian konyol lainnya saat melakukan briefing di satu acara. Karena tak memakai kacamata, Donita sampai salah arah berbicara dengan orang. "Aku diajak ngomong, terus aku menghadap ke sana bilang 'iya', padahal orangnya di sini. Jadi banyak yang tersinggung juga karena mata aku," ujarnya.

    Donita memilih operasi lasik di SMG Eye Clinic agar penglihatannya kembali normal. Meski harus merogoh kocek puluhan juta, Donita mendapat jaminan kembali melihat normal tanpa bantuan kacamata atau lensa kontak.

    Ilustrasi mata. Shutterstock

    Dokter Bambang Triwiyono, Sp.M., dari Ciputra SMG Eye Clinic, Jakarta menjelaskan lasik merupakan tindakan laser pada mata seseorang untuk mengurangi kelainan refraksi, misalnya minus, silinder, dan plus. Teknologi lasik mulai berkembang sejak 30 tahun lalu. Hasilnya sangat presisi. Yang lebih mencengangkan, dapat sembuh dalam tempo 24 jam. Lasik, kata Bambang, kali pertama ditemukan pada 1949.

    “Kala itu, kita mengenal teknologi Microkeratome. Yakni, presisi instrumen bedah dengan pisau berosilasi yang dirancang untuk membuat flap kornea dalam operasi lasik. Mata dikurangi ketebalannya sehingga kelengkungan kornea mata berubah. Intinya, mengubah titik fokus agar tepat pada retina,” ujar Bambang.

    Sebelum menjalani operasi lasik, pasien mesti melalui beberapa tahap pemeriksaan. Pertama, mengecek kelainan refraksi untuk mengetahui apakah mata pasien minus tinggi, sedang, atau ringan. Kedua, memeriksa segmen anterior atau bagian depan mata. Ketiga, mengecek retina mata. Tujuannya, mengetahui kemampuan ketajaman penglihatan.

    Keempat, pemeriksaan topografi kornea mata atau kornea pakimetri, yakni prosedur yang digunakan untuk menentukan ketebalan kornea mata dengan menggunakan USG. Tujuannya, mengetahui ketebalan kornea mata seseorang. Jika ketebalan kornea di bawah 500 mikron (1000 mikron setara dengan 1 milimeter) maka pasien tidak dianjurkan menjalani lasik.

    “Sisa ketebalan kornea setelah menjalani lasik harus tak kurang dari 250 mikron,” ujar Bambang. Jika nekat, maka pasien akan mengalami risiko berbahaya. Salah satunya, ektasia atau kornea melar meskipun, risiko tersebut sangat jarang ditemukan padaras Asia.

    TABLOIDBINTANG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.