Sabtu, 19 Agustus 2017

Penumpang Wanita Ganas? Persaingan atau Layanan Buruk?

Jum'at, 19 Mei 2017 | 19:05 WIB
Ilustrasi kereta commuter line. TEMPO/Bintari Rahmanita

Ilustrasi kereta commuter line. TEMPO/Bintari Rahmanita.

TEMPO.CO, Jakarta - Anda wanita pengguna alat transportasi KRL Commuter Line pasti pernah mendengar istilah "Penumpang wanita lebih ganas daripada penumpang laki-laki". Istilah ini nampaknya memang nyata, terlebih saat video pertengkaran saling jambak antara dua penumpang wanita beredar secara viral beberapa waktu lalu.

Menurut psikolog Ajeng Raviando, mengingat seluruh penumpang di gerbong wanita adalah sesama perempuan, kadang timbul perasaan setara yang bisa meningkatkan kemungkinan friksi karena tidak ada yang mau mengalah.

Setiap orang merasa mempunyai hak sama untuk bisa duduk nyaman di gerbong itu, tak peduli apakah ada orang lain yang punya kebutuhan khusus seperti hamil, membawa anak, lanjut usia atau sakit dan tidak kuat berdiri lama.

Ketika pergi dan pulang dengan kereta penuh perjuangan di mana jumlah penumpang dan gerbong tidak sebanding, setiap orang pasti merasa lelah dan stres, apalagi bila terhimpit di gerbong padat yang sumpek itu terjadi setiap hari.

"Karena sudah terjadi rutin, pada akhirnya mengikis empati individu," kata Ajeng pada Kamis, 18 Mei 2017.


Ketika perempuan hamil, membawa anak, atau sudah lanjut usia yang berdiri, mereka yang duduk mungkin tetap cuek meski menempati kursi prioritas.

Seperti yang dialami oleh Sekar, misalnya. Dirinya pernah meminta haknya duduk di kursi prioritas karena dia sedang hamil, tapi ditolak mentah-mentah.

"Padahal dia tidak hamil, tapi dia bilang 'Tidak mau, saya kan sudah duluan'," kata Sekar yang mengalah dan mencari kursi prioritas di tempat lain.

Juneman Abraham, psikolog sosial dari Universitas Bina Nusantara, menjelaskan fenomena perilaku agresif di gerbong wanita disebabkan oleh persaingan antarperempuan.

Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa hubungan antarperempuan sesungguhnya penuh persaingan.

"Persaingan dalam konteks ini bermakna perjuangan untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas, baik sumber daya fisik (makanan, tempat) maupun sumber daya psikologis atau emosional (cinta) dan sosial (status, kedudukan)," tulisnya melalui surat elektronik.

Juneman mengatakan, sesama perempuan merasa perlu bersaing keras satu sama lain karena saat ini pada masyarakat status dan posisi perempuan masih lebih rendah dari laki-laki.

"Itu membuat perempuan seringkali membentuk kelompok eksklusif," katanya, menambahkan anggotanya adalah orang yang dianggap bisa memberikan bantuan dan dukungan.

Di dalam kelompok sendiri, perempuan tidak mengizinkan ada persaingan karena mereka mementingkan kerjasama.

Tetapi di luar kelompoknya, perempuan bisa jadi lebih agresif untuk meneguhkan posisi dirinya di atas perempuan lain yang tidak berhubungan.

"Hal tersebut adalah hal pertama yang yang menjelaskan mengapa perempuan (umumnya tidak saling kenal) bisa jambak-jambakan di gerbong wanita."

Di sisi lain, mayoritas perempuan bersaing secara tersamar agar mereka tidak terlihat sangat kompetitif. Perempuan ingin tujuannya tercapai, tapi jangan sampai ada pembalasan terutama fisik.

"Peneguhan posisi diri perempuan secara tersamar itu juga yang menjadi sebab mengapa perempuan bisa pura-pura tidak melihat atau tidur meskipun ada perempuan hamil di sekitarnya sedang membutuhkan tempat duduk di KRL."

Sosiolog Nia Elvina berpendapat akar masalah dari fenomena ini adalah pelayanan transportasi publik yang masih buruk. Jumlah gerbong yang tidak bisa menampung jumlah penumpang memicu orang bersikap tidak manusiawi.

ANTARA

Berita lainnya:

4 Jenis Tabungan yang Berisiko dan Bikin Uangmu Berkurang
Yoghurt Tak Bisa Gantikan Manfaat Sayur dan Buah
Jadi Mak Comblang yang Andal, Ada 4 Aturan Main


Grafis

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Cara Salat di Negara Luar Angkasa Asgardia

Warga muslim di Asgardia tetap dapat melaksanakan ibadah salat di luar angkasa, bagaimana tata cara yang dianjurkan?