Jengkel dengan Polah Anak, Jangan Sampai Memukul ya Ayah Bunda

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kekerasan pada anak. Shutterstock

    Ilustrasi kekerasan pada anak. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Disengaja atau tidak, masih banyak orang tua menerapkan kekerasan fisik dalam mendisiplinkan anak. Pemukulan, seringan apapun, dikategorikan dalam kekerasan. Menurut data UNICEF pada 2014, 80 persen orang tua di seluruh dunia kerap memukul anak.

    Hampir semua orang tua mengatakan terpaksa melakukannya lantaran anak sulit diatur jika hanya dengan kata-kata. Dalam keadaan marah, orang tua sering lepas kendali dan secara refleks memukul anak meski tidak bertujuan menyakiti. Namun perlu diingat tindak kekerasan, baik yang berat maupun ringan, merupakan cara kontraproduktif dalam mendidik anak.

    “Kami menemukan bahwa memukul bokong selalu dianggap sebagai tindakan spontan orang tua dalam mendisiplinkan anak,” kata Elizabeth Gershoff, profesor ilmu perkembangan manusia dan keluarga di Universitas Texas di Austin, Amerika Serikat. Meski tidak menyakiti fisik dalam kategori berat dan hanya ingin menggertak, jika tindakan ini sering dilakukan akan berefek jangka panjang dalam perkembangan anak.

    Menurut penelitian Universitas Texas dan Universitas Michigan, Amerika Serikat, kontak fisik baik berupa kekerasan ataupun pukulan tanpa menyakiti bisa mengganggu perilaku dan kesehatan mental anak. Gangguan ini memang tidak serta merta muncul setelah anak dipukul, melainkan baru terlihat bertahun-tahun setelahnya.

    Kesimpulan diambil setelah para ahli melakukan metaanalisis pada 2016, menggunakan data 160 ribu anak dalam periode lebih dari 50 tahun. Hukuman fisik yang diberlakukan terhadap anak dapat memicu perilaku antisosial, agresif, masalah kesehatan mental, gangguan kognitif, dan kepercayaan diri yang rendah pada anak ketika mereka tumbuh.

    Tidak hanya itu, pemukulan terhadap anak menimbulkan efek donimo. Anak-anak yang semasa kecil sering dipukul akan menerapkan hal yang sama terhadap anak-anak mereka kelak. Mereka yang biasa ditertibkan dengan dipukul, akan menganggap pukulan adalah hal biasa dan cara untuk membuat orang lain mengikuti keinginan mereka.

    “Kebanyakan anak akan berhenti melakukan sesuatu jika seseorang memukul mereka, tetapi itu tidak berarti mereka memahami mengapa orang lain memukul atau apa yang seharusnya dilakukan,” kata Gershoff.

    TABLOIDBINTANG

    Baca juga:

    Mau Terapkan BLW Seperti Andien, Simak Pesan Dokter

    Sri Mulyani: Jangan Biarkan Anak Keleleran Enggak Jelas
    Gerakan Bayi Pertanda Siap Lahap Makanan Pendamping ASI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.