Obat Batuk Sirup Bisa Bikin Cepat Hamil, Mitos atau Fakta?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi seks saat hamil. shutterstock.com

    Ilustrasi seks saat hamil. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Meski terdengar sangat aneh, ada beberapa orang yang menggunakan obat batuk sirup untuk meningkatkan peluang kehamilan.

    Memang belum ada kajian ilmiah yang cukup kuat untuk membuktikannya. Namun beberapa orang mengklaim berhasil mempraktikkannya. Dikutip Tempo dari laman Boldsky, cara ini berhasil pada mereka yang mengalami masalah dengan sel sperma yang susah menembus sel telur.

    Obat batuk sirup bekerja membantu sel sperma bertemu sel telur yaitu dengan mencairkan lendir serviks, melalui kandungan guaifenesin. Pada obat batuk, guaifenesin bertugas menghilangkan lendir di paru-paru dan sebagian orang meyakini bisa melonggarkan lendir di serviks. Saat lendir serviks kendur, sperma dapat dengan mudah mencapai sel telur.

    Mereka yang sudah mencobanya mulai mengkonsumsi obat batuk sirup selama masa ovulasi atau masa subur wanita. Ovulasi terjadi ketika sel telur matang dikeluarkan dan masuk ke dalam tuba falopi.

    Agar terjadi kehamilan, sel telur harus bertemu dengan sel sperma di dalam tuba falopi. Para pria juga dianjurkan untuk minum obat batuk sirup untuk meningkatkan jumlah sperma dan motilitasnya.

    Perlu diperhatikan, tidak semua obat batuk sirup diyakini bisa digunakan dalam proses ini. Hanya obat batuk yang mengandung guaifenesin yang diduga bisa membantu mengeringkan lendir serviks.

    Namun kembali lagi, belum ada penelitian yang menunjukkan sahih-tidaknya hipotesa ini. Ketimbang ragu, sebaiknya Anda konsultasi ke dokter.

    DINA ANDRIANI

    Berita lainnya:
    10 Penyebab Sulit Hamil


    Minuman Pemicu Kemandulan

    Bahan Kimia Kosmetik yang Harus Dihindari Ibu Hamil


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ini Daftar TNI-Polri yang Pernah Menjabat sebagai Plt Gubernur

    Penunjukan anggota TNI-Polri menjadi Plt Gubernur sudah sempat terjadi beberapa kali. Penunjukan itu diputuskan oleh Mendagri saat itu, Tjahjo Kumolo.