2 Gaya yang Membuat Tali Sepatu Terlepas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Tim Kanada, Eugenie Bouchard (7), mengikat tali sepatu dalam pertandingan basket NBA All-Star Celebrity di Toronto, Kanada, 12 Februari 2016. Vaughn Ridley/Getty Images

    Pemain Tim Kanada, Eugenie Bouchard (7), mengikat tali sepatu dalam pertandingan basket NBA All-Star Celebrity di Toronto, Kanada, 12 Februari 2016. Vaughn Ridley/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekuat apapun teknik simpul yang dipakai, tali sepatu tetap mempunyai risiko terlepas sendiri. 2 gaya yang mempengaruhi lepasnya tali sepatu.

    Fenomena sehari-hari yang terlihat sepele, tali sepatu lepas,  ternyata menarik perhatian Profesor Oliver O'Reilly, ilmuwan asal Universitas California, Berkeley untuk menelitinya. Bersama timnya, Profesor O'Reilly mengamati gerakan seseorang yang berlari di treadmill. Selanjutnya, gerakan direkam dengan kamera berkecepatan tinggi dan diukur kecepatan gerakannya dengan accelerometer.

    Setelah dilakukan analisis, terdapat 2 hal yang membuat lepasnya tali sepatu. Yang pertama adalah gaya gravitasi atau g-force dan gaya inersia akibat gerakan ayunan kaki yang bekerja pada ujung tali sepatu.

    Hentakan kaki dan ujung tali yang menjuntai adalah penyebab utama kendornya simpul pada tali sepatu. Ketika berlari, setiap kaki menyentuh tanah maka menimbulkan tekanan yang lebih kuat dibandingkan gaya gravitasi yang muncul saat roller coaster terkuat di dunia meluncur. Setelah tali sepatu meregang akibat tekanan gaya gravitasi, tali sepatu yang tetap digunakan untuk bergerak jadi lebih mudah terlepas.

    Hal ini terjadi karena saat kaki mengayun, gaya inersia bekerja pada ujung tali untuk menarik tali. Peristiwa ini serupa dengan apa yang terjadi  ketika kita melepas tali sepatu dengan cara menarik salah satu ujungnya, namun dalam gerakan yang lebih lambat.

    Pada dasarnya gaya inersia adalah kecenderungan benda fisik mempertahankan keadaan gerakannya hingga ada gaya lain yang menekannya untuk mengubah kecepatan, arah, atau gerak.

    Jadi, saat kaki mengayun ke depan dan ujung tali sepatu terhempas ke depan maka akan ada gaya yang menariknya ke arah berlawanan untuk mempertahankan keadaan. Hal inilah yang menimbulkan Avalanche Effect atau perubahan-perubahan kecil namun bisa menyebabkan hasil yang signifikan pada ikatan tali.

    Waktu lepasnya tali sepatu ini relatif berbeda tergantung sebarapa kuat simpul atau teknik simpul yang digunakan.

    Dalam Jurnal yang dipublikasikan Proceedings Of The Royal Society A, O'Reilly juga menyebutkan bahwa jika ingin membuat simpul tali sepatu yang kuat maka harus diikat sedemikian sehingga ikatan dan ujung tali sepatu mengarah horizontal atau tegak lurus terhadap kaki, bukan dengan ikatan vertikal karena hanya akan membuat ikatan tali jadi lebih lemah.

    TABLOIDBINTANG

    Berita lainnya:
    4 Selebriti Penggila Sneakers, Ada yang Dipakai Main Bola
    Anak Tidur Pulas, Niscaya Tubuhnya Cepat Tinggi
    4 Alasan Mengapa Produk Organik Lebih Mahal


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.