Selasa, 20 Februari 2018

Hari Kartini, Dian Siswarini: Dari Menara ke Menara

Oleh :

Tempo.co

Jumat, 21 April 2017 19:00 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hari Kartini, Dian Siswarini: Dari Menara ke Menara

    CEO XL Axiata, Dian Siswarini membaca puisi berjudul "Malam di Pegunungan, Aku Berkisar di Antara Mereka" dalam acara #17anTempo yang bertema Merayakan Chairil Anwar, di gedung Tempo, Jakarta, 15 Agustus 2016. Tempo Channel

    TEMPO.CO, Jakarta - Memanjat menara Base Transceiver Station (BTS) bukan hal rumit bagi Dian Siswarini. Sejak kuliah di Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung, ia tahu betul suatu hari nanti bakal bergelut di industri telekomunikasi.

    Bermula menjadi Radio Engineer di PT Exelcom (sebelum berganti nama menjadi XL) dan pengalaman sebelumnya menangani teknis jaringan di PT Satelindo, membuat Dian semakin bersemangat. Dinamika dan ritme kerja yang serba cepat membuatnya tertantang, meski ia sadar saat itu banyak yang menyebut pekerjaan ini dikuasai oleh laki-laki. "Butuh kesiapan daya saing untuk mengikuti perubahan, spirit inovasi, kesinambungan adopsi teknologi, dan kebutuhan investasi yang terus-menerus," ujarnya kepada Tempo, Rabu lalu.

    Terus melompat dari ‘menara’ ke ‘menara’, Dian semakin memahami karakter industri ini. Perusahaan mulai mengangkatnya sebagai Vice President Network pada 2007. Dian bertanggungjawab memastikan seluruh jaringan XL beroperasi optimal agar bisa bersaing dengan operator lain.

    Dialah yang menjalankan kebijakan penurunan harga hingga 90 persen (minute factory). Strategi ini menyulap XL menjadi operator telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia, dengan pangsa pasar 20 persen dari sebelumnya hanya 11 persen.

    Tak puas membenahi jaringan, Dian mencoba kemampuannya di layanan digital. Hasilnya, ia melahirkan sistem pembayaran dan iklan digital  mobile money dan mobile advertising. "Saat itu, saya turut mengembangkan layanan e-commerce termasuk melahirkan anak perusahaan Elevenia," kata dia.

    Selanjutnya : Ditunjuk sebagai Chief Executive Officer

    Satu semester kemudian, XL menciptakan aplikasi digital mFish untuk memandu nelayan di Lombok dan Bali. XL juga mengembangkan XmartCity di Yogyakarta, Lombok, Balikpapan, serta XmartVillage di Kabupaten Bandung. Di Yogyakarta, XL bahkan berintegrasi dengan layanan e-money yang bisa dipakai dalam pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan.

    Dua puluh tahun berjalan, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT XL Axiata menetapkan Dian sebagai Chief Executive Officer. Dari teknis, kini ia harus menekuni bidang manajerial. "Sebelum dipercaya sebagai CEO, saya diberi kesempatan belajar lebih banyak mengenai bisnis termasuk dengan melakukan tour of duty baik di XL ataupun Axiata Group serta menambah pengetahuan melalui sekolah di Harvard Business School."

    Bosnya saat itu, Hasnul Suhaimi, mengirim Dian bergabung ke Axiata Group di Malaysia. Hingga akhirnya diminta kembali ke XL Axiata untuk duduk di kursi Wakil Direktur Utama, dan empat bulan kemudian menjadi CEO XL.

    Bidang teknis, bagi Dian, lekat dengan ilmu matematika. Serba pasti. Sedangkan memimpin perusahaan secara keseluruhan tampak abu-abu di matanya. "Satu ditambah satu bisa dua, empat, nol, atau tiga. Ini membuat saya melihat industri telekomunikasi dari sudut pandang yang berbeda."

    Dian mencoba mengakselerasi layanan berbasis manual seperti SMS dan telepon, ke paket data atau internet. Upaya ini untuk menjawab perkembangan pasar. Perubahan ke layanan digital sempat mengakibatkan pendapatan XL jeblok, namun membaik pada kuartal ke empat 2016.

    Selanjutnya : melakukan uji coba teknologi jaringan 5G pertama kali di Indonesia.

    Sepanjang tahun lalu, perusahaan membukukan laba hingga Rp 376 miliar dibandingkan kinerja tahun 2015 yang merugi Rp 25 miliar. Kas yang minus berbalik menjadi positif setelah dilakukan penghematan terutama dalam perpanjangan sewa menara. Total pengguna XL mencapai 46,5 juta pelanggan.

    Dian pun memutar otak untuk memenuhi Rencana Pitalebar Indonesia yang masuk dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Operator harus menyediakan layanan 4G LTE yang mampu menyuguhkan bandwith sampai 100 Mbps. Layanan 4G LTE XL menjangkau 100 kota, dengan lebih dari 8.200 BTS. Cakupan pelanggannya mencapai 53 persen dari total populasi penduduk Indonesia.

    Pekan lalu, Dian menggandeng Ericsson Indonesia melakukan uji coba teknologi jaringan 5G pertama kali di Indonesia. Teknologi ini diklaim mampu menghadirkan kecepatan koneksi hingga 20 giga bps. Ia memperkirakan, teknologi ini dapat diaplikasikan pada 2020. "Berarti tinggal 3 tahun lagi, bahkan bisa lebih cepat, karena saat ini pertumbuhan layanan 4G sangat cepat."

    Tahun ini, Dian menganggarkan belanja modal perusahaan sebesar Rp 7 triliun untuk memperluas jaringan. XL akan membangun sekitar 17 ribu BTS 4G, sekaligus mengembangkan layanan ke 330 kota lain.

    Dian yakin prestasinya di industri telekomunikasi, antara lain karena dukungan keluarga. Ia merasa beruntung dengan kemampuannya saat ini. "Beruntungnya perempuan dilahirkan dengan kemampuan lebih baik dalam hal spatial ability dan juga orchestration ability dibanding laki-laki."

    PUTRI ADITYOWATI

    Artikel lain:
    Hari Kartini di Bali, Peselancar Perempuan Beraksi Pakai Kebaya

    Wizzy Williana Ungkap Racikan Masker agar Kulit Mulus
    Kontroversi Soal Selaput Dara Buatan


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Nomor Urut Partai Politik Peserta Pemilu 2019

    Ketua KPU Arief Budiman memimpin pengundian nomor urut untuk partai politik peserta Pemilu 2019 pada Sabtu 17 Februari 2018, Golkar dapat nomor 4.