Selasa, 20 Februari 2018

Hari Kartini, Veronika Linardi Merawat Pekerja Generasi Milenial

Oleh :

Tempo.co

Jumat, 21 April 2017 17:00 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hari Kartini, Veronika Linardi Merawat Pekerja Generasi Milenial

    Veronika Linardi. europeanbusinessreview.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Veronika Linardi, konsultan dan pengusaha yang sukses mengembangkan platform karier berbasis digital, Qerja.com ingin mengajak semua perempuan di Indonesia memanfaatkan semua peluang yang ada dan mengeluarkan bakat terbaiknya di lingkungan kerja yang tepat.

    Saat ditemui Tempo, Veronika mengatakan ide mendirikan Qerja.com muncul saat dia dan beberapa rekannya membicarakan kondisi dunia kerja saat ini, yang didominasi kaum milenial atau muda-mudi kelahiran tahun 1980-2000-an. Menurut Veronika, generasi ini menjadi bahan diskusi yang menarik lantaran sangat “berulah”. “Salah satunya bersifat kutu loncat. Jarang yang bekerja hingga lebih dari tiga tahun di tempat yang sama,” kata dia.

    baca juga :Reza Rahadian Bilang Kartini Sekarang Bukan Soal Kesetaraan

    Veronika, yang saat itu menjalankan firma konsultan karier Linardi Associates, lantas berusaha menganalisa apa yang menyebabkan generasi milenial bertingkah seperti itu. Rupanya, kata dia, ada sesuatu yang hilang, yang seharusnya bisa menjembatani kegelisahan para pekerja muda ini dengan kantornya. “Mereka ternyata butuh transparansi mengenai lingkungan kerja, jenjang karier, hingga pengupahan,” ujarnya.

    Setelah mengetahui masalah tersebut, Veronika lantas menyimpulkan hanya teknologi yang bisa menjawab kebutuhan para pekerja muda. Dia pun berpikir keras, bagaimana menciptakan sebuah sistem online yang bisa memberi informasi lengkap mengenai perusahaan-perusahaan di Indonesia, mulai dari jenjang karier, gaji, lingkungan kerja, hingga tugas-tugas yang harus dihadapi karyawan di setiap tingkatannya.

    Dibantu koleganya yang memahami komputer dan teknologi informasi, Veronika lantas mewujudkan idenya dalam bentuk situs user generated content bernama Qerja.com. Dengan falsafah huruf awal Q atau Quality (kualitas), Veronika menjadikan Qerja.com sebagai sebuah ekosistem yang mendukung pembentukan lapangan kerja dan lingkungan kerja yang berkualitas “Kami ingin membantu karyawan berbakat menemukan pekerjaan yang tepat, dan membantu perusahaan hebat untuk menemukan karyawan yang berbakat,” kata dia.

    Selanjutnya : sukses menjadi pionir platform digital

    Sebulan setelah diluncurkan, Qerja.com memiliki 50 ribu anggota. Setahun kemudian, situs ini dikenal sebagai komunitas tenaga kerja berbasis online. Veronika pun bangga lantaran Qerja.com sukses menjadi pionir platform digital yang memiliki basis komunitas sangat kuat di Indonesia, dalam waktu yang relatif singkat. Salah satu resep suksesnya ialah memoles Qerja.com dengan aneka fitur.

    Menurut Veronika, pendekatan semacam ini cocok untuk kaum milenial, yang kebanyakan tidak paham mengenai apa yang menjadi keinginan serta kesesuaiannya dengan bakat dan jati diri mereka. “Kebanyakan dari mereka, begitu diterima kerja setelah lulus kuliah, langsung diambil tanpa pertimbangan,” ujarnya. Situasinya kian buruk karena tidak ada informasi lengkap soal mengenai lingkungan kerja, jenjang karir, hingga pola pengupahannya. “Mereka pun kemudian tak nyaman dan menjadi kutu loncat,” kata dia yang memperkirakan jumlah pekerja generasi milenial mencapai 40 persen dari total angkatan kerja nasional.

    Pada 2015, dengan status start-up atau perusahaan rintisan, situs ini mendapatkan pendanaan US$ 50 juta atau Rp 66 miliar dari SB ISAT, lembaga hasil kolaborasi antara Softbank asal Jepang dengan Indosat. Pendanaan seri A (8 digit US$) ini menasbihkan Qerja.com sebagai start-up dengan valuasi tertinggi di Asia Tenggara. Qerja.com juga mendapatkan dukungan modal dari Mountain Kejora Ventures, sebuah perusahaan dana ventura. “Dengan dukungan itu, kami menjadi semakin baik, semakin banyak belajar,” kata Veronika yang menggaet investor lewat rekam jejak, konsep bisnis dan visi yang tepat,  dan  kemampuan untuk mengeksekusi strategi.

    DINI PRAMITA

    Berita lainnya:
    Kartini di Mata Najwa Shihab: Ibu Kita Harum Namanya
    Hari Kartini di Bali, Peselancar Perempuan Beraksi Pakai Kebaya
    Reza Rahadian Bilang Kartini Sekarang Bukan Soal Kesetaraan


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Pilkada 2018, Ada 8 Provinsi Rawan Politik Identitas

    Komisioner Badan Pengawas Pemilihan Umum, Rahmat Bagja, mengatakan ada 8 provinsi penyelenggara Pilkada 2018 yang dianggap rawan politik identitas.