Selasa, 13 November 2018

Evani Jesslyn Jadi Barista, dari Benci Sampai Cinta Mati Kopi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Evani Jesslyn, barista, Q-Grader dan pemilik Strada Coffee di kantor Tempo, Jakarta, 4 April 2017. TEMPO/Rully Kesuma.

    Evani Jesslyn, barista, Q-Grader dan pemilik Strada Coffee di kantor Tempo, Jakarta, 4 April 2017. TEMPO/Rully Kesuma.

    TEMPO.CO, Jakarta - Evani Jesslyn mengalami fase "dari benci menjadi cinta" terhadap kopi. Dara kelahiran 18 Agustus 1990 ini awalnya tak suka minum kopi karena rasanya pahit.

    Pada satu waktu, ketika ia tinggal di San Jose, California, Amerika Serikat, para kolega mengajaknya ke sebuah kedai kopi. "Saya sempat mencicipi kopi yang rasanya enak banget dan ternyata biji kopinya dari Indonesia," kata Evani Jesslyn dalam acara #ngopidikantor pada pembukaan pameran mural dan seni instalasi "Para Perempuan Kartini" di Gedung Tempo, Jakarta.

    Sesapan pertama itu mengubah jalan hidup lulusan University of California, Berkeley, ini. Evani Jesslyn kadung jatuh cinta pada kopi Nusantara dan bertekad mempelajarinya langsung di Indonesia. Ia pun rela keluar dari perusahaan audit di Amerika yang menggajinya US$ 50-100 ribu per tahun.

    Banting setir menjadi barista, Evani Jesslyn tak mau setengah hati menekuninya. Ia mengambil kelas sertifikasi barista dan Q Grader penilai kopi. Per Februari lalu, ia telah memiliki brevet dari Specialty Coffee Association of America dan Speciality Coffee Association of Europe.

    Bahkan, pada 2016, ia menjadi satu-satunya wakil Asia dalam pertunjukan bakat internasional Barista & Farmer yang diselenggarakan di Brasil. Evani Jesslyn menyisihkan sekitar 300 pesaing dari pelbagai negara.

    Kini Evani Jesslyn sibuk membesarkan Strada Coffee, kedai kopi yang dirintisnya sejak 2012 di Semarang. Cabang kedua akan dibuka di Sunter, Jakarta Utara, Mei nanti. Ia juga berbagi pengetahuannya tentang kopi secara rutin di Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Pertama Karangturi, Semarang. "Saya mengajar karena tak terima dengan anggapan kebanyakan warga Semarang yang menyebutkan kopi impor lebih enak," tuturnya.

    Setelah menjalani beberapa sesi kelas, Evani Jesslyn menemukan fakta menggembirakan bahwa lebih banyak murid perempuan tertarik pada kopi. "Karena perempuan memang pencicip rasa yang baik," dia berujar.

    RAYMUNDUS RIKANG

    Berita lainnya:

    Tempe, Makanan Sahabat Kantong dan Kesehatan
    Efek Air Keras Pada Kulit, Bagaimana Mengatasinya?
    Sarah Sechan Malu kepada Anak Semata Wayangnya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hari Ayah, Diprakarsai Bukan oleh Para Bapak

    Setiap tanggal 12 November kita memperingati Hari Ayah yang ternyata diprakarsai bukan oleh para bapak tapi oleh Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi.