Bahaya yang Mengintai Orang-orang Kesepian

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita kesepian. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita kesepian. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Seberapa parah kesepian yang kita alami ternyata bisa memprediksi seberapa berat penderitaan di kala sakit. Begitu hasil sebuah penelitian dalam jurnal Health Psychology.

    Hal ini berdasarkan penemuan para peneliti dari Universitas Houston dan Universitas Rice, yang mengevaluasi tingkat kesepian 213 orang beserta pertemanan mereka. Peneliti lalu membuat para partisipan itu terjangkit flu dan mengkarantina mereka dalam sebuah hotel selama lima hari.

    Hasilnya, sekalipun semua partisipan berpeluang sama mengalami sakit, namun mereka yang merasa kesepian justru merasakan sakit yang lebih parah ketimbang orang-orang yang tak merasa kesepian. Penemuan ini sekaligus menjukkan bahwa luas atau tidaknya jaringan pertemanan tak berarti kita harus mengisolasi diri atau merasa kesepian.

    "Rasanya seperti kesepian padahal kita berada di ruangan yang dipenuhi orang. Tak peduli berapa banyak teman, jika mereka merasa hubungan dengan kita tak bermakna, maka tak akan ada pengaruhnya," ujar penulis penelitian Angie LeRoy.

    ADVERTISEMENT

    Kesepian telah lama dikenal sebagai faktor risiko yang bisa memperburuk kesehatan. Penelitian menunjukkan orang yang kesepian berisiko 26 persen lebih tinggi menghadapi kematian dini daripada orang yang tak merasa kesepian.

    Penelitian terbaru ini juga menambah bukti bahwa kesepian juga mempengaruhi seseorang mengalami penyakit dalam jangka pendek. "Hal sederhana seperti kesepian bisa berefek pada kesehatan," kata LeRoy seperti dilansir Time.com.

    BISNIS

    Artikel lain:
    Kiat Mengontrol Porsi Makan
    Novita Angie Menolak Diet dan Tetap Makan Enak
    7 Negara dengan Kaum Hawa yang Rentan Osteoporosis


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Landai Angka Kasus Harian Covid-19, Angka itu Mengelabui Kita

    Pemerintah klaim kasus harian Covid-19 mulai melandai. Lalu mengapa pendiri LaporCovid-19 mengatakan bahwa angka itu tak ada artinya?