Anak Ikut Ajang Pencarian Bakat, Dukungan Atau Eksploitasi?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak belajar bernyanyi. shutterstock.com

    Ilustrasi anak belajar bernyanyi. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyak ajang pencarian bakat untuk anak-anak, baik on-air maupun off-air. Acara ini membuat para orang tua, biasanya ibu, yang merasa anaknya berbakat, gelisah. Mereka ingin menunjukkan kemampuan anak dengan ikut mendaftarkan atau membiarkan kemampuan itu terpendam. Samar antara niat mendukung bakat anak atau justru mengeksploitasi.

    9 Muslimah Tajir

    Menyikapi besarnya keinginan orang tua untuk menunjukkan potensi anak mereka melalui ajang pencarian bakat, psikolog anak Mayke S. Tedjasaputra mengatakan, boleh-boleh saja orang tua bersikap seperti itu. "Ajang pencarian bakat bisa memberikan pengalaman kepada anak untuk mempraktikkan bidang yang dia kuasai, merasakan deg-degannya berkompetisi, juga kesempatan untuk anak belajar bersikap ketika menang maupun kalah," kata Mayke yang juga mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, ini.

    Namun demikian, Mayke berpesan, ada beberapa hal yang harus dilakukan orang tua sebelum mengikutsertakan anaknya ke dalam acara pencarian bakat. Mayke mengatakan, penting untuk mengenali lebih dulu bakat atau kecerdasan anak. Berikut ini delapan kecerdasan majemuk yang diungkap Mayke:

    1. Bahasa
    Anak biasanya sangat mudah menyerap kalimat, mengerti, dan mengingatnya. Saat berbicara pun dia sangat fasih.

    2. Logika matematika
    Anak mampu berpikir logis dan sangat matematis.

    3. Gerak tubuh
    Anak mempunyai koordinasi tubuh yang bagus atau sangat luwes bergerak, baik yang merupakan motorik kasar maupun motorik halus.

    4. Visual
    Anak dengan kemampuan mengamati ruang bentuk yang sangat tinggi. Biasanya gemar memainkan puzzle atau balok susun.

    5. Naturalis
    Anak yang sejak kecil sudah memperlihatkan ketertarikan lebih pada sesuatu yang berkaitan dengan alam, seperti nama-nama hewan, tumbuhan, bebatuan, dan sejenisnya.

    6. Musikal
    Anak terlihat menyenangi dan mudah mengikuti irama musik atau bebunyian.

    7. Interpersonal
    Anak yang mudah berkenalan dan berelasi dengan orang lain di sekitarnya. Dia juga mengetahui mood seseorang.

    8. Intrapersonal
    Anak dengan tipe ini sangat mengenali dirinya sendiri, apa keinginannya, apa pilihannya, serta mudah mengendalikan diri.
       
    "Intinya, orang tua harus memberikan pengalaman dulu kepada anak. Sejak kecil, berikan pengalaman, entah itu yang berkaitan dengan olahraga atau menari, merakit, atau membacakan cerita. Nanti akan terlihat apakah anak bicaranya cepat atau tidak, hasil rakitannya bagus atau tidak," kata Mayke. "Karena ada anak yang mengingat kata per kata saja sulit, menyanyi pun fals. Pengalaman langsung akan memperlihatkan kemampuan mereka."
       
    Ketika sudah terlihat minat dan bakat anak, menjadi tugas orang tua untuk memfasilitasi agar kecerdasan yang dimiliki anak bisa berkembang. Kepada anak yang tertarik dengan hewan-hewan, misalnya, maka berikan buku bergambar, ajak ke kebun binatang, atau menghadiri acara-acara terkait. Kalau anak bertanya, coba berikan penjelasan, lebih daripada sekadar yang anak tanya. "Karena bakat tidak terjadi begitu saja. Kalau memang ingin bakat anak bisa menjadi sesuatu, peran orang tua amat diperlukan," ujar Mayke.

    Lalu ada kalanya mood anak naik-turun. Peran orang tua menjadi harus lebih ditingkatkan, terutama dari segi komunikasi, kasih sayang, serta sikap peka dan tanggap. "Orang tua bisa mengajak anak bicara, diskusi, tentang apa yang dirasakannya. Jelaskan kepada anak, bahwa dengan terus menekuni bakatnya, maka kelak akan ada hasil yang menjadi kebanggaan diri (bukan orang tua)," urai Mayke. "Pada tahap ini, jangan sampai orang tua menjadi otoriter, jangan sampai keluar kata 'harus' kepada anak," tegasnya.

    Perihal ajang pencarian bakat atau perlombaan yang bisa diikuti anak, Mayke memberi penegasan mengenai risiko eksploitasi yang sangat mungkin terjadi. "Ketika orang tua hanya bisa mencecar, mencari sesuatu yang sifatnya materi (ketenaran dan uang), itulah eksploitasi," jelas Mayke. Misalnya, anak sudah masuk waktu istirahat, tidak bisa tampil terlalu sering, tapi orang tua malah memaksa, maka itu eksploitasi karena sudah di luar kemampuan anak.

    Termasuk dalam hal ini adalah orang tua yang memaksakan bakat anak padahal jelas-jelas tidak berbakat. "Dimasukkan ke sekolah musik, tapi tidak bisa-bisa – sementara anak yang lain bisa – maka jangan terus dipaksa. Jangan sampai ada perasaan takut anaknya tertinggal dari anak lain. Orang tua harus tahu di mana kapasitas anak," katanya.

    TABLOIDBINTANG

    Berita lainnya:
    Fakta Seputar Teman Khayalan Si Kecil
    Menjalin Kedekatan Orang Tua dan Anak Remajanya
    Inilah Bedanya Peran Ayah dan Ibu dalam Tumbuh-Kembang Anak


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.