Mengenal Cemburu Buta dan Risikonya bagi Percintaan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pasangan bermasalah/bertengkar. Shutterstock.com

    Ilustrasi pasangan bermasalah/bertengkar. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Belakangan ini, banyak pemberitaan yang melaporkan kejadian tentang seseorang harus kehilangan nyawa hanya karena aksi cemburu buta orang lain.

    Bercermin dari kasus semacam itu, ada baiknya kita mengetahui seluk-beluk mengenai cemburu buta, apa pemicunya dan bagaimana mengatasinya, agar dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

    Psikolog Rienny Hassan menyatakan cemburu buta tak ubahnya racun yang mematikan. Menurut dia, cemburu buta kebanyakan berasal dari prasangka negatif yang tidak dibarengi dengan data-data akurat tapi dipercaya atau diasumsikan sebagai sebuah kebenaran.

    “Perilaku seperti ini biasanya dipicu rasa posesif yang berlebihan atau ketidakberdayaan yang berlebihan. Bahkan ada kasus di mana seorang suami cemburu buta kepada tukang sayur langganan istrinya. Ada juga istri yang cemburu buta kepada pembantu rumah tangganya.”

    Cemburu buta juga sangat tidak sehat bagi seseorang karena orang yang bersangkutan cenderung berkutat dengan perasaan dan perspektifnya sendiri. Akibatnya, orang tersebut akan sulit percaya kepada orang lain dan sulit mengembangkan diri.

    “Hidupnya akan menjadi tidak tenang karena selalu berprasangka negatif dan tidak berdasar. Bahkan banyak hal dibuat-buat yang tidak masuk akal sebagai alasan cemburu. Bagaimana mau beraktivitas produktif dan memperoleh kebahagiaan kalau sedikit-sedikit curiga?” ucapnya.

    Konsultan pernikahan (marriage expert), Sheri Stritof, menuturkan cemburu sebenarnya merupakan sebuah bentuk reaksi terhadap hal yang dianggap mengancam, baik itu imajinatif maupun riil, untuk memvalidasi sebuah hubungan.

    Celakanya, cemburu juga adalah alasan satu dari tiga pasangan yang menjadi pasien terapi marital. “Sedikit cemburu itu wajar dan dibutuhkan dalam hubungan. Namun cemburu buta sangat menakutkan dan bisa memicu seseorang bertindak membahayakan,” ujarnya.

    Secara psikologis, tidak ada alasan yang membenarkan argumen bahwa cemburu akan bertumbuh seiring dengan usia pernikahan. Sebab, tutur Sheri, cemburu mengakar pada watak dan karakter seseorang serta tidak bisa dihilangkan hanya dengan memikirkannya.

    Dalam skala kecil, rasa cemburu justru dapat menguatkan sebuah hubungan dan membuat pasangan saling menghargai satu sama lain. Dalam kehidupan rumah tangga, cemburu dalam skala kecil juga dapat meningkatkan gelora emosional dan gairah seksual.

    Namun, apabila kecemburuan tersebut semakin intens dan mulai irasional, dampaknya justru akan sangat korosif, baik bagi diri si pencemburu buta, rumah tangganya, pasangannya, maupun orang lain. Bahkan tak jarang sebuah hubungan rusak akibat cemburu buta.

    Lebih lanjut, Sheri menjelaskan, cemburu buta berakar dari perasaan takut, paranoia, marah, memalukan, gagal, curiga, terancam, sedih, cemas, iri, sedih, ragu, luka hati, dan iba kepada diri sendiri.

    “Cemburu buta membuat seseorang merasa frustrasi, kecewa, curiga, dan selalu muram. Cemburu buta bisa memicu depresi yang sulit untuk dijelaskan serta perlahan-lahan akan menjadi seperti racun yang membahayakan kesehatan jasmani dan rohani,” tuturnya.

    BISNIS

    Berita lainnya:
    7 Inovasi Kecantikan dari Korea Selatan
    Mengenal Lebih Jauh tentang Daging dan Telur Ayam
    5 Bahaya Anak Sering Menonton Televisi



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.