Mengapa Manusia Rampasasa Bertubuh Mini?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Keluarga Pigmi Rampasasa Flores berpose didepan rumah adat (rumah gendang) di Dusun Rampasasa, Desa Wae Mulu, Kecamatan Wae Rii, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), 26 Februari 2015. Pigmi adalah istilah bagi kelompok etnis bertubuh pendek yang berada di sebuah dusun Rampasa di NTT. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Keluarga Pigmi Rampasasa Flores berpose didepan rumah adat (rumah gendang) di Dusun Rampasasa, Desa Wae Mulu, Kecamatan Wae Rii, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), 26 Februari 2015. Pigmi adalah istilah bagi kelompok etnis bertubuh pendek yang berada di sebuah dusun Rampasa di NTT. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Flores - Mereka bergaya di depan kamera. Dokter Aman B. Pulungan diapit empat pemangku adat Dusun Rampasasa. Mencolok sekali, postur tubuh dokter kelahiran Medan itu tampak paling tinggi. Keempat pria Rampasasa tersebut hanya sepundak Aman.

    "Mereka manusia pigmi, manusia berperawakan pendek," kata Aman B. Pulungan saat ditemui Tempo di kantornya, akhir Januari lalu. Seorang lelaki pigmi dewasa, merujuk pada definisi ahli paleoantropologi dan antropolog ragawi dari Universitas Gadjah Mada, Profesor Teuku Jacob, kurang atau sama dengan 150 sentimeter.

    Pada 2006, Jacob mengizinkan Aman ikut The Rampasasa Pygmy Somatology Expedition. Jacob juga mendukung ketika Aman mengutarakan rencana penelitian doktoralnya tentang manusia pigmi Rampasasa dari aspek hormonal dan genetik. Pada pertengahan Januari 2015, Aman pun lulus, berhak menyandang doktor dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

    Hasil penelitian sepanjang Desember 2011-April 2014 itu bertajuk "Faktor Genetik dan Non-Genetik pada Manusia Pigmi Rampasasa, Flores". "Meski perawakannya pendek, manusia pigmi Rampasasa memiliki proporsi tubuh yang normal," ujar Aman ihwal temuan penelitiannya. "Jadi mereka pendek bukan disebabkan oleh suatu sindrom tertentu."

    Sindrom yang kerap dilekatkan pada komunitas bertubuh pendek adalah sindrom Laron, yang ditandai oleh adanya hambatan pertumbuhan. Tinggi badan pengidap sindrom ini di bawah rata-rata, dengan tangan dan kaki yang kecil. Perawakan pendek juga kerap dikaitkan dengan sindrom Turner—kondisi saat perempuan kehilangan satu kromosom X di mana wanita cenderung lebih pendek dari rata-rata. Namun komunitas Rampasasa tak menunjukkan gejala-gejala di atas.

    Dalam penelitian, Aman melibatkan 58 responden. Mereka individu dewasa dan anak dari tiga generasi di Dusun Rampasasa dengan perawakan pendek. Ada kelompok manusia pigmi murni Rampasasa (8 orang), kelompok pigmi campuran Rampasasa (40 orang), dan kelompok non-pigmi Rampasasa (10 orang), terdiri atas 27 pria dan 31 wanita, dengan 28 orang masuk kategori anak dan 30 dewasa.

    Tinggi mereka diukur. Sedangkan untuk menyibak penyebab tubuh mereka yang pendek, penelitian dilakukan dengan pemeriksaan sampel darah. Dari darah tersebut, Aman hendak mencari tahu ihwal kadar vitamin D, kalsium, dan hormon pertumbuhan plus mengecek DNA (asam deoksiribonukleat, asam nukleat beruntaian ganda yang mengkode informasi genetik).

    "Warga sini senang saat dokter Aman melakukan penelitian. Yang penting tujuannya baik. Mereka tidak merasa terganggu," kata Martinus Masar, Kepala Dusun Rampasasa. Cuma, untuk urusan mengambil sampel darah, sempat ada kekhawatiran pada saat-saat awal. "Ada yang bilang, 'Nanti darah kamu habis, mau dijual.' Ada lelucon begitu," ucap pria 35 tahun ini. "Saya jelaskan, tidak mungkin dokter ambil banyak-banyak. Cuma sedikit untuk tes." Hasilnya, tokcer. Tercatat hanya satu responden yang menolak diambil darahnya.

    Urusan pengambilan darah beres, pengukuran tinggi badan lebih tak jadi soal. Hasilnya, tinggi badan rerata kelompok subyek dewasa pigmi murni adalah 141,3 cm ± 3,6 cm; pigmi campuran 150,43 ± 6,25 cm; dan kelompok non-pigmi 151,6 ± 6,77 cm. Bila mengacu pada definisi pigmi menurut Jacob dan kawan-kawan, semua subyek kelompok pigmi murni Rampasasa termasuk pigmi. Sementara itu, ada sebagian kelompok pigmi campuran Rampasasa dan non-pigmi Rampasasa yang tinggi badannya tidak termasuk pigmi.

    Bertambahnya tinggi badan kelompok pigmi campuran Rampasasa diduga berkaitan dengan perkawinan antara suku Rampasasa dan suku lain di luar Rampasasa. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan gereja setempat yang melarang pernikahan sesama warga Rampasasa. Saat ini orang dewasa Rampasasa yang masih asli sudah tak banyak lagi. Sedangkan anak-anak di sana sudah tak ada lagi yang asli.

    Toh, tak semua perkawinan campuran di Rampasasa selalu melahirkan generasi yang lebih tinggi tubuhnya. Kalau dalam perkawinan tersebut mempelai laki-lakinya berasal dari Rampasasa, anaknya akan tetap pendek. Kondisi sebaliknya terjadi jika pengantin perempuannya adalah orang Rampasasa. Harapan untuk mendapatkan anak keturunan yang perawakannya bertambah tinggi lebih terbuka. "Itu kelainan imprinting," ucap Aman.

    Bagaimana dengan hasil penelitian dari sampel darah? Aman menemukan fakta bahwa kadar vitamin D atau kalsium pada ketiga kelompok subyek normal. Ini menarik. Musababnya, penelitian Aman dan timnya pada 2012 menemukan bahwa hanya 9,2 persen anak sekolah dasar di Jakarta memiliki kadar vitamin D cukup, sedangkan 16,7 persen dari mereka kekurangan kalsium. Normalnya vitamin D dan kalsium tersebut menunjukkan bahwa tak ada hubungan antara status nutrisi dan perawakan pendek warga Rampasasa.

    Sementara itu, dalam analisis DNA, Aman mengidentifikasi adanya 10 regio homozigot (pasangan gen yang mempunyai alel yang sama) pada sampel pigmi yang tidak didapatkan pada non-pigmi (defek genetik). Namun kandidat gen yang terkait dengan perawakan pendek secara spesifik belum ditemukan. Sampai saat ini, kata Aman, banyak peneliti lain di dunia yang telah meneliti penyebab pendeknya pigmi. Namun hasilnya sama saja. "Mereka belum juga menemukan gen penyebab pendeknya manusia pigmi tersebut," ujarnya.

    Temuan Aman yang menunjukkan bahwa manusia pigmi Rampasasa tak terkait dengan status nutrisi tapi lantaran ada efek genetik disambut baik Profesor Agus Firmansyah dari Departemen Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. "Itu bagus sekali," kata promotor dokter Aman ini. Sebab, belum pernah ada penelitian tuntas tentang manusia pigmi di Indonesia. Ihwal belum ditemukannya gen penyebab pendeknya manusia pigmi Rampasasa, "Itu perlu penelitian lanjutan. Penelitian kan tidak bisa sekali rampung."

    DWI WIYANA | ERWIN PRIMA

    Baca juga:
    Deteksi Kanker Payudara Sejak Dini
    6 Kebiasaan Buruk yang Bikin Kulit Menderita
    Supaya Si Kecil Tidak Kelebihan Berat Badan



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.