Adeline Suwana, Cinta Alam karena Banjir  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegiat lingkungan, Adeline Suwana. TEMPO/Nurdiansah

    Pegiat lingkungan, Adeline Suwana. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Menempuh studi di Universitas Harvard, Amerika Serikat, tidak menghentikan langkah Adeline Tiffanie Suwana untuk “mengabdi” kepada lingkungan. Justru perempuan kelahiran 26 Desember 1996 ini kian mantap untuk berbuat lebih untuk alam. Adeline mengambil studi ekonomi lingkungan dan kebijakan publik pada 2016. "Bagaimana mensosialisasi lingkungan ke masyarakat itu lewat kebijakan publik," kata dia ketika dihubungi Tempo.

    Sementara itu, kuliahnya di Fakultas Ekonomi (Lingkungan) Universitas Indonesia ditinggalkan. “Tapi bulan depan saya pulang untuk skripsi,” kata peraih penghargaan “most potential student” dari fakultas pada 2014-2015 ini.

    Soal prestasi, Adeline tak main-main. Diawali dengan penghargaan Tunas Lestari Kehati Award pada 2009, kemudian tingkat Internasional, seperti Young Eco Hero di San Francisco (2009), ASEAN Championship Biodiversity (2011, 2013), Diana Awards di London (2013), dan Hitachi Young Leaders Initiative 2015. Ia juga menjadi pembicara penting dan presentasi dalam berbagai acara PBB sejak 2009 di berbagai negara.

    Berbagai prestasi yang ia raih berawal dari keprihatinannya pada banjir yang merendam Jakarta pada 2008. Ia kemudian mendirikan Sahabat Alam yang kini telah memiliki anggota sebanyak 30 ribu orang. “Saya masih berkoordinasi via WhatsApp Call,” kata Adeline lagi.

    Hingga saat ini, sudah 150 kegiatan diadakan oleh Sahabat Alam. Kegiatan itu didasarkan pada empat proyek besar komunitas tersebut, yakni konsentrasi keanekaragaman hayati seperti penanaman hutan bakau dan terumbu karang.

    Kedua, mengedukasi anak muda tentang bumi, seperti seminar pemanasan global dan langkah-langkah penghijauan yang sudah dilakukan di 35 sekolah sejak 2009. Ketiga, mengajak anak-anak untuk ekspedisi ke hutan dan alam, seperti ke Taman Nasional Indonesia dan gerakan memungut sampah di pantai-pantai. Dan terakhir, kegiatan pembangunan berkelanjutan: energi terbarukan.

    Adeline berkeinginan untuk menerapkan energi terbarukan ini sekembalinya ke Tanah Air, tentunya setelah ia mendapatkan ilmu tersebut dari kampus Harvard yang sudah melakukan penelitian untuk mengurangi pemakaian energi hingga 30 persen. “Saya yakin bisa diterapkan.” ujarnya.

    MARTHA WARTA

    Berita lainnya:
    Tip Menata Cermin di Rumah, Menurut Fengsui
    7 Tipe Orang yang Paling Sering Digigit Nyamuk
    Jangan Khawatir, Menelan Permen Karet Tidak Berbahaya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebijakan Lockdown Merupakan Kewenangan Pemerintah Pusat

    Presiden Joko Widodo menegaskan kebijakan lockdown merupakan wewenang pusat. Lockdown adalah salah satu jenis karantina dalam Undang-undang.