5 Penyebab Tubuh Berkeringat saat Makan, Termasuk Kerusakan Saraf dan Parkinson

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita makan burger. TEMPO/Subekti

    Ilustrasi wanita makan burger. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Keringat berfungsi mendinginkan tubuh. Keringat bisa keluar bukan saat olahraga, juga ketika ada sesuatu yang panas masuk ke tubuh seperti makanan. Jadi jika Anda berkeringat di dahi saat makan sup, apalagi yang pedas, itu adalah hal yang normal. 

    Namun, ada juga alasan medis mengapa tubuh berkeringat setelah makan, itu disebut dengan "gustatory sweating". Dilansir dari Livestrong, penyebab tubuh berkeringat saat makan adalah sebagai berikut. 

    1. Makanan tertentu
    Ada makanan tertentu yang bisa memicu respons keringat, termasuk kopi, cokelat, makanan pedas atau asam, makanan panas, alkohol, dan permen, menurut International Hyperhidrosis Society.

    "Saya jarang mendengar pasien mengatakan bahwa makan menyebabkan mereka berkeringat di seluruh tubuh. Mereka berkeringat ketika makan makanan tertentu," kata David Pariser, seorang dokter kulit dan spesialis hiperhidrosis (keringat berlebih) di Norfolk, Virginia, Amerika Serikat. 

    ADVERTISEMENT

    Jadi, jika tak ingin berkeringat saat makan, hindari makanan-makanan tersebut. 

    2. Mengidap sindrom Frey 
    Sindrom Frey adalah kondisi langka yang terjadi setelah operasi wajah di sekitar kelenjar parotid atau kelenjar ludah di bawah telinga, menurut National Organisation for Rare Disorders. 

    Menurut Pariser, saat kulit dan saraf sembuh setelah operasi, cabang saraf yang menuju ke kelenjar ludah ini pada dasarnya dapat bercampur dan terhubung ke kelenjar keringat di kulit. Karena kelenjar air liur dirangsang sebagai respons terhadap makan, yang merupakan bagian dari proses pencernaan, keliru memicu kelenjar keringat untuk berkeringat.

    "Ini adalah keringat yang menetes. Meskipun ini bukan kondisi medis yang serius, namun dapat mengganggu secara sosial," kata Pariser.

    Sindrom ini bisa diatasi dengan suntikan botoks yang biasanya bertahan selama sembilan hingga 12 bulan, bahkan hingga dua tahun.

    3. Kerusakan saraf akibat diabetes
    Orang yang menderita neuropati otonom diabetik, kerusakan saraf akibat komplikasi diabetes, bisa berkeringat di dahi, wajah, kulit kepala, dan leher setelah mengunyah makanan, terutama setelah makan keju.

    “Tidak ada masalah dengan kelenjar keringat mereka, itu karena tombol yang mengontrolnya,” kata Pariser. Dalam hal ini, sakelar itu macet, dan saraf menstimulasi keringat padahal seharusnya tidak.

    Baca juga: Sering Berkeringat Meski Tak Kepanasan atau Olahraga, Ini Penyebabnya

    4. Mengidap herpes zoster
    Penyakit ini adalah reaktivasi dari virus varicella-zoster yang menyebabkan cacar air. Penyakit ini bisa menyebabkan ruam yang agak menyakitkan. Jika ruam ini ada di wajah maka saraf bisa rusak sehingga menyebabkan keringat.

    Ini dikenal sebagai hiperhidrosis sekunder, menurut Masyarakat Hiperhidrosis Internasional. Kemungkinan besar orang akan berkeringat di kedua sisi wajah serta leher dan dada. Respons ini bisa muncul saat  makan atau bahkan hanya memikirkan tentang makanan, menurut organisasi.

    5. Gejala penyakit Parkinson
    Parkinson adalah gangguan otak progresif yang menyebabkan gemetar, membuat sulit berjalan dan mempengaruhi keseimbangan, menurut National Institute on Aging. Gangguan otak dan saraf terkait dengan kondisi berkeringat.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Resepsi Pernikahan di PPKM Level 4 dan 3

    Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat, atau PPKM, dengan skema level juga mengatur soal resepsi pernikahan. Simak aturannya.