Kehilangan Belahan Jiwa Usai Melahirkan, Butuh Support System

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita bersedih. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita bersedih. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kabar duka menyelimuti jagat industri musik Tanah Air, salah satu musisi dan penyanyi Glenn Fredly meninggal dunia pada Rabu 8 April 2020. Sebelum kabar kepergian Glenn Fredly, sang istri Mutia Ayu masih memposting foto bersama suami tercinta di laman Instagram-nya yang menceritakan bahwa hari tepat 40 hari setelah melahirkan

    "Ketika Gewa sudah dewasa nanti dan mengerti, Gewa pasti akan berkata "Gewa bangga menjadi anak perempuan Ayah. Tuhan selalu jaga kami. I Love You," tulis Mutia dalam keterangannya.

    Secara psikologis, seorang ibu usai melahirkan membutuhkan banyak dukungan khususnya dari orang terdekat yakni suami tercinta. Sebab usai melahirkan, seorang ibu akan mengalami banyak perubahan dalam kehidupannya sehari-hari.

    Menurut Psikolog Anisa Cahya Ningrum, selain harus mengurusi diri sendiri dalam proses pemulihan fisiknya, setelah melahirkan ibu masih tetap harus mengurus suami dan rumah tangganya. Kehadiran bayi juga semakin menyita waktu, pikiran dan energinya. "Perubahan peran yang drastis dan semakin banyak ini, memang berpotensi menimbulkan risiko terjadinya ketidakstabilan mental pada ibu," ucapnya saat dihubungi Tempo.co, Kamis 9 April 2020.

    Dalam kondisi awal, ibu bisa mengalami sindrom baby blues, yang ditandai dengan gejala mudah menangis, sensitif, sulit konsentrasi, gangguan tidur dan mengkhawatirkan kondisi bayi. Gejala-gejala tersebut relatif normal, karena memang dalam proses penyesuaian, dan juga karena ketidakstabilan hormon.

    Salah satu hal yang bisa menjadi pemicu kondisi psikologis ini semakin memburuk, adalah ketika si ibu kehilangan ayah dari bayinya. Ibu bisa mengalami shock, stres, dan depresi. "Sangat penting bagi ibu untuk mendapatkan pendampingan psikologis di masa sulit seperti ini. Pendampingan ini bisa dilakukan oleh para profesional atau psikolog. Bisa juga didukung oleh support system, dari orang-orang di sekitarnya," ucap Anisa.

    Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mendukung seseorang yang kehilangan pendamping hidupnya adalah dengan menemani, mengajak ngobrol tentang hal-hal ringan yang tidak membebani pikirannya. Kekosongan hati akan menimbulkan munculnya pikiran-pikiran negatif yang berbahaya.

    Jika ibu masih bisa merawat bayinya, biarkan hal itu terjadi, namun tetap perlu dipantau, jangan sampai ibu melakukan hal-hal berbahaya kepada bayi, ketika mood-nya sedang tidak stabil. Namun jika ibu terlihat lemah dan tidak mampu merawat bayi, maka harus ada orang lain yang melakukannya. Kelelahan fisik dan mental bisa memicu terjadinya depresi. Beri kesempatan ibu untuk menyusui bayinya, istirahat, makan, mandi dan aktivitas pribadi yang lain.

    Ajak ibu berolahraga ringan, karena sirkulasi darah yang berjalan lancar, akan membuat ibu sehat dan bisa berkonsentrasi dengan baik. Selain itu, jauhkan ibu dari benda-benda berbahaya, seperti senjata tajam, api, atau cairan-cairan tertentu. Khususnya jika tampak gejala-gejala menyendiri, mengucapkan ide-ide tentang “kepergian”, “kehampaan” dan “keputusasaan”.

    "Dengan mendapatkan pendampingan yang optimal, ibu akan bisa berpikir lebih positif, tenang dan tidak merasa sendiri. Orang yang paling diharapkan mendampingi dalam kondisi ini adalah orang tua, kakak, adik, atau sahabat-sahabatnya," pungkasnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.