Tips Menyiapkan Dana Darurat Selama Pandemi Virus Corona

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi perencanaan keuangan. Mommysdiary.com

    Ilustrasi perencanaan keuangan. Mommysdiary.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB menetapkan masa tanggap darurat pandemi virus corona hingga 29 Mei 2020. Pamerintah juga telah mengimbau masyarakat beraktivitas di rumah untuk mencegah coronavirus disease atau COVID-19 sampai batas waktu yang belum ditentukan. 

    Sebagai upaya preventif dalam menyikapi kebijakan ini, masyarakat harus bisa mempersiapkan diri dengan pintar dan efisien baik dari segi materi maupun finansial. 

    Co-Founder and Vice-CEO Jouska Indonesia Farah Dini Novita mengatakan dalam menghadapi situasi yang tidak bisa dikontrol dan tidak tahu kapan berakhir seperti sekarang, salah satu langkah paling penting untuk diperhatikan adalah untuk memiliki anggaran keuangan yang baik.

    Dengan begitu, lanjut Farah masyarakat akan lebih bijak dalam mengatur pengeluaran yang dilakukan, termasuk dalam membeli kebutuhan seperlunya dan tidak melakukan panic buying.

    "Nah sebelum, mengalokasikan dana darurat kita harus tahu dulu pengeluaran primer. Masalahnya zaman sekarang sudah jarang melakukan pencatatan pengeluaran. Sekarang bisa jadi waktu yang tepat memulainya," ucap Farah dalam bincang-bincang online dengan tema Bijak finansial dengan Tips Belanja dari Rumah yang digelar Shopee, Kamis 26 Maret 2020.

    Farah mengimbau agar mencatat kebutuhan primer. Ini penting kalau beberapa hari tanpa penghasilan tetapi ada yang harus keluar dananya. "Di masa pandemi seperti saat ini, alokasi dana operasional bisa dialihkan untuk dana darurat," ucapnya.

    Setelah kebutuhan beberapa hari ke depan, di masa pandemi virus corona sudah tercukupi, baru bisa fokus pada pembayaran ke pihak ketiga (cicilan).

    Jouska tak lupa membagikan tips strategi menyiapkan dana darurat yang bisa Anda simak berikut ini.

    1. Penilaian terhadap profil risiko

    Proses untuk mengetahui seberapa besar potensi risiko yang kita miliki untuk membantu membuat strategi pencapaian goals.

    "Untuk mengukur hal ini dapat melihat beberapa aspek seperti: usia, jenis pekerjaan, status pernikahan, jumlah tanggungan, dan pengalaman investasi," ucapnya.

    2. Update posisi aset dan utang

    Setiap orang ingin menjadi kaya, kekayaan seseorang dapat diukur dari kekayaan bersih yang dimiliki (total aset dikurangi total utang). Aset meliputi aset lancar, aset investasi, dan aset guna. Sementara utang terbagi menjadi dua berdasarkan jatuh temponya jangka pendek dan jangka panjang.

    3. Catat pola pengeluaran

    Untuk menambah kekayaan bersih, setiap orang perlu mengatur pola pengeluarannya karena total penghasilan dikurangi total pengeluaran merupakan sejumlah dana yang menjadi tabungan dan investasi yang nantinya akan menambah total kekayaan bersih. Pengeluaran dibagi menjadi empat pos yaitu primer, kewajiban, sekunder dan tabungan/investasi.

    4. Ketahui tujuan keuangan

    Tiga langkah di atas tidak akan berguna bila tidak ada tujuan keuangan yang jelas. Tujuan keuangan dibagi menjadi dua yang sifatnya wajib dan tambahan. dalam membuat tujuan perlu diperhatikan berapa jumlah yang ingin dicapai dan berapa lama target untuk mencapainya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.