Gendong Bayi Depan jadi Kontroversi, Adakah Risikonya?

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Gendong bayi depan (Sehatq)

    Ilustrasi Gendong bayi depan (Sehatq)

    TEMPO.CO, Jakarta - Tren menggendong bayi menghadap depan menjadi kontroversi sejak dulu. Ada yang berpendapat, cara ini tidak aman terutama ketika bayi masih kecil dan belum benar-benar siap menopang tubuhnya. Namun, dengan gendongan bayi berdesain tertentu, risiko-risikonya bisa dihindari.

    Kapan bayi dianggap aman untuk digendong menghadap depan pun belum menemui kata sepakat. Tapi demi perkembangan kognitif bayi yang maksimal, menggendong bayi disarankan menghadap ke dalam terutama di usia 4-6 bulan pertama. Ketika mereka sudah lebih kuat menopang kepala sendiri, maka gendongan bayi depan bisa jadi pilihan.

    Sebenarnya apa saja risiko menggendong bayi menghadap depan?

    Sensori berlebihan
    Bayi yang masih kecil belum betul-betul siap dengan interaksi yang terlalu lama dan intens dengan lingkungan sekitar. Ketika berada di gendongan bayi depan, artinya mereka bisa melihat sekeliling dengan bebas, berbeda dengan saat digendong menyamping atau menghadap ke belakang.

    Bayi yang masih kecil belum memahami bagaimana memproses segala sensori dan informasi yang masuk ke mereka. Terlebih, mereka juga belum bisa menyaring mana yang penting dan tidak. Konsekuensinya, bayi bisa menjadi lelah dan rewel karena bingung dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

    Tidak aman untuk bayi tidur

    Posisi gendongan bayi depan tidaklah aman untuk bayi tidur karena tidak ada penopang stabil untuk kepala mungil mereka. Idealnya ketika benar-benar harus tidur dan masih dalam perjalanan, bayi berada dalam posisi snuggling atau dipeluk dan lehernya tertopang dengan baik.

    Bahkan posisi bayi tidur saat digendong menghadap ke depan rentan membuat kepala mereka terjatuh ke depan. Ketika hal ini terjadi, akan ada kompresi pada bagian leher mereka dan berisiko mengganggu pernapasan.

    Masalah paha dan tulang belakang bayi

    Gendongan bayi depan juga kerap dikaitkan dengan masalah gangguan pertumbuhan paha dan tulang belakang bayi. Utamanya, jika orangtua atau pengasuh menggendongnya tidak dengan gendongan yang benar-benar menopang bagian bokong dan paha dengan baik.

    Seharusnya, gendongan harus bisa membuat kaki bayi terbuka sehingga tidak menekan hip dan spine. Untuk itu, ketika memilih gendongan, sebaiknya hindari yang dasarnya sempit dan pilih yang benar-benar lebar sehingga bisa menopang bayi dengan optimal.

    Gendongan dengan penopang yang ideal juga membuat bayi berada di posisi lebih stabil di depan penggendongnya. Hal ini sejalan dengan gravitasi sehingga baik bayi maupun penggendong merasa lebih nyaman.

    Kuncinya, menurut organisasi International Hip Dysplasia adalah tidak masalah menggendong bayi menghadap ke depan selama pangkal pahanya ditopang sempurna.

    Gravitasi tidak sejalan

    Ketika bayi digendong menghadap ke depan, artinya gravitasi orangtua dan bayi tidak lagi sejalan. Bayi berada di posisi “menarik” bahu orangtua sehingga lebih terasa berat dan tidak nyaman. Sementara saat posisi menggendongnya menghadap ke dalam, tekanan itu nihil.

    Prioritas nomor satu adalah keamanan bayi. Jika belum yakin, ikuti insting Anda sebagai orangtua, bukan dari ucapan orang-orang dari kanan kiri.

    SEHATQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.