Kelebihan Berat Badan Memicu Penebalan Dinding Rahim, Ini Cirinya

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita memegang perut. Pixabay.com/Natasya Gepp

    Ilustrasi wanita memegang perut. Pixabay.com/Natasya Gepp

    TEMPO.CO, Jakarta - Penebalan dinding rahim salah satu kondisi abnormal yang bisa dialami setiap wanita. Ciri-ciri utama penderitanya adalah kerap merasakan pendarahan yang tidak wajar, bahkan saat tidak sedang menstruasi. Namun penebalan dinding rahim tidak selalu berarti gejala kanker rahim. 

    Disebut precancerous apabila ada pertumbuhan sel yang abnormal disebut atypia. Jenis penanganan kondisi penebalan dinding rahim pun berbeda antara yang bisa menjadi awal mula kanker dan yang tidak. Selain pendarahan yang tidak wajar, ada juga beberapa gejala penebalan dinding rahim yang dirasakan penderitanya. Beberapa yang bisa menjadi indikator adalah haid lebih lama dengan volume darah yang juga lebih banyak, siklus antar haid kurang dari 21 hari, dan masih merasakan pendarahan dari vagina meski telah memasuki masa menopause.

    Idealnya, dinding rahim atau endometrium memang akan luruh dengan sendirinya apabila tidak terjadi pembuahan. Sangat wajar ketika dinding rahim menjadi lebih tebal pada periode awal menstruasi. Namun menjadi tidak biasa apabila seorang wanita merasakan beberapa gejala di atas. Ketika terasa banyak hal yang janggal terkait dengan pendarahan dan siklus haid, segera periksakan diri ke dokter kandungan.

    Tentu kita tahu bahwa siklus haid sangat bergantung pada hormon estrogen dan progesteron. Selama kedua hormon ini tetap seimbang, maka siklus haid seorang wanita akan berjalan sebagaimana mestinya. Namun akan menjadi lebih berisiko ketika kedua hormon ini tidak seimbang. Berikut penjabaran faktor risiko terjadinya penebalan dinding rahim:

    1. Hormon tak seimbang
    Salah satu penyebab terjadinya penebalan dinding rahim yang paling umum adalah hormon estrogen yang terlalu banyak dan hormon progesteron yang justru sangat sedikit. Konsekuensinya, bisa terjadi pertumbuhan sel dalam jumlah tidak wajar. Ketidakseimbangan hormon ini dapat terjadi saat seseorang berada di fase menopause, pra menopause, menjalani terapi pengganti hormon, tidak subur, hingga obesitas.

    2. Usia
    Selain ketidakseimbangan hormon, usia juga berkontribusi dalam menyebabkan penebalan dinding rahim. Dalam hal ini, wanita berusia di atas 35 tahun lebih berisiko mengalaminya. Selain itu, mendapatkan haid pertama kali terlalu dini juga merupakan faktor risiko.

    3. Kelebihan berat badan
    Obesitas atau kelebihan berat badan juga menjadi salah satu faktor risiko terjadinya penebalan dinding rahim. Wanita obesitas berisiko 2,5 kali lebih besar mengalami masalah di rahim.

    Ketika menghubungkan masalah penebalan dinding rahim dengan kehamilan, tentu kaitannya sangat erat. Embrio yang terbentuk dari proses ovulasi akan melekat pada dinding rahim, artinya menjadi bagian krusial dalam sebuah kehamilan. Dinding rahim memang bisa menebal hingga sekitar 13 mm (dari normalnya 3 mm) saat proses ovulasi terjadi. Namun ketika ketebalan dinding rahim mencapai 15 mm, maka embrio akan sulit melekatkan diri.

    Itulah mengapa ketika seorang wanita diduga mengalami penebalan dinding rahim, maka dokter akan melihatnya lewat USG. Pemeriksaan ini tidak menimbulkan rasa sakit dan dapat memberikan gambaran di dalam rahim. Sebenarnya, penebalan dinding rahim bisa mereda dengan sendirinya. Namun pada kasus tertentu, perlu ada tindakan seperti terapi hormonal. Jenis terapi ini bisa dilakukan untuk mengatasi penebalan dinding rahim. Biasanya, penderitanya akan diberikan bentuk sintetis dari hormon progesteron yaitu progestin dalam bentuk pil atau suntik.

    Tindakan kedua yang biasa dilakukan untuk mengatasi penebalan dinding rahim adalah melakukan biopsi. Sama seperti melakukan pemeriksaan pap smear berkala, prosedur biopsi ini sangat cepat bahkan kurang dari satu menit. Pada prosedur biopsi endometrium ini, dokter akan mengambil sampel kecil di dinding rahim. Sampel ini kemudian diteliti untuk menemukan apakah ada pertumbuhan sel yang tidak normal.

    Langkah selanjutnya adalah hiterektomi, istilah lain untuk pengangkatan rahim. Biasanya, tindakan ini hanya akan diambil apabila penebalan dinding rahim berisiko tinggi menyebabkan kanker. Keputusan ini tidak main-main karena ketika rahim diangkat, artinya kehamilan tidak mungkin terjadi.

    Pada beberapa kasus, penebalan dinding rahim bisa sembuh dengan sendirinya. Bahkan ketika seseorang tidak mengonsumsi atau menjalani terapi hormonal, penebalan ini juga berlangsung dengan sangat lambat. Jadi sangat penting untuk tahu bagaimana kondisi penebalan dinding rahim secara berkala. Dengan demikian, tindakan pengobatan bisa segera diambil saat ada pertumbuhan sel yang tidak biasa.

    SEHATQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.