Bagaimana Makanan Bisa Mempengaruhi Mood Anak? Ini Kata Dokter

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak makan sayuran. shutterstock.com

    Ilustrasi anak makan sayuran. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Anak sering kali tidak bisa ditebak. Kadang-kadang mereka moody atau suasana hatinya cepat berubah dan emosi tidak terkendali. Kondisi ini disebabkan oleh banyak faktor, salah satu yang jarang diketahui adalah asupan makanan yang tidak mengandung gizi seimbang. 

    Demikian diungkapkan dokter spesialis anak konsultan gastrohepatologi Frieda Handayani di acara “Pentingnya Pemenuhan Asupan Serat Sejak Dini” yang diselenggarakan Bebelac Gold di Jakarta, Selasa, 3 September 2019. Menurut dia, pencernaan adalah “otak kedua” manusia yang tidak hanya mempengaruhi proses metabolisme tubuh, tapi juga emosi atau mood seseorang. Itu sebabnya, penting bagi setiap orang, termasuk anak-anak, mengonsumsi gizi seimbang untuk menjaga kesehatan pencernaan.

    “Di pencernaan ada sekitar 100 juta sel saraf yang bisa mengirim sinyal ke otak. Kalau perut tidak enak, otomatis mood juga nggak baik. Happy tummy happy brain,” ujar Frieda.

    Salah satu hal yang mempengaruhi kesehatan pencernaan adalah makanan yang masuk ke perut mereka. Frieda mengatakan, makanan yang mengandung gizi seimbang akan membuat  pencernaan bekerja dengan baik. Gizi seimbang terdiri dari koarbohidrat, protein, lemak baik, dan serat yang berasal dari sayur dan buah-buahan. Idealnya dalam satu piring makan anak, 50 persennya berupa serat.

    Namun, kebanyakan ibu melupakan unsur terakhir ini. Dalam sebuah penelitian terbatas pada 2018 di Jakarta, terbukti 9 dari 10 anak mengalami kekurangan serat. Frieda juga mengatakan sering menemukan kasus gastrohepatologi yang berkaitan dengan kekurangan serat.

    Serat merupakan bahan makanan yang berasal dari tumbuhan yang tidak dapat dicerna utuh oleh enzim pencernaan. Bahan makanan ini berfungsi menstimulasi pergerakan usus sehingga dapat mempertahankan frekuensi buang air dan konsistensi feses yang lunak. Selain itu, serat mendukung bakteri menguntungkan dalam pencernaan. Bahan makanan ini juga membantu  memproduksi serotonin, yang sering disebut sebagai hormon bahagia, lebih banyak.

    “Jadi anak-anak yang suka cemas, susah fokus, suka marah, sakit perut, lemot, atau ketakutan, jika diperbaiki kondisi ususnya dengan makanan cukup serat akan ada ada perbaikan moodnya,” tutur Frieda. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.