Tips menghindari Drama kala Liburan dengan Anak

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak liburan (pixabay.com)

    Ilustrasi anak liburan (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Liburan bersama anak bisa menjadi hal yang tak menyenangkan bila diwarnai drama, entah karena anak rewel, tak puas dengan tempat liburan, atau lainnya. Agar tak terjadi, ada beberapa hal yang bisa orang tua terapkan, salah satunya melibatkan anak dalam merencanakan liburan. Demikian menurut psikolog keluarga dan pernikahan dari Rumah Dandelion, Nadya Pramesrani, M.Psi.

    "Kalau bersama anak usia TK atau SD bisa melibatkan mereka mencari destinasi, menyusun jadwal. Anak dilibatkan mulai dari liburan mau ke mana," ujarnya.

    Baca juga:
    Cara Hemat Saat Liburan
    Ingin Mewujudkan Liburan Impian, Mulai dari Hal-hal Kecil Berikut

    Lakukan pengarahan sebelum berlibur, misalnya dengan membicarakan apa saja yang akan dilakukan selama liburan. Bila ada masalah, apa yang harus dilakukan, hingga bila lapar harus mencari makan ke mana.

    ADVERTISEMENT

    Hal lain yang tak kalah penting adalah memperhatikan pola makan dan kebutuhan istirahat yang cukup. Dua hal ini kerap terlupakan, padahal bisa menjadi penyebab drama dimulai.

    "Perhatikan pola makan dan kebutuhan istirahat anggota keluarga karena istirahat kurang jadi ada drama," tutur Nadya.

    Artikel lain:
    Tips Perawatan Kulit Usai Liburan di Tempat Dingin
    Berat Masuk Kerja usai Liburan, Atasi dengan Kiat Berikut

    Selain itu, lengkapi diri dengan informasi dan rencana cadangan. Siapkan diri dengan kondisi yang mungkin bisa terjadi dan bersikaplah fleksibel.

    "Anak harus diberi pemahaman agar siap menghadapi situasi yang berbeda. Stimulus lingkungan baru. Kalau belum ada sense of control, pengalaman liburan bisa sangat overwhelming untuk mereka," kata Nadya.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Landai Angka Kasus Harian Covid-19, Angka itu Mengelabui Kita

    Pemerintah klaim kasus harian Covid-19 mulai melandai. Lalu mengapa pendiri LaporCovid-19 mengatakan bahwa angka itu tak ada artinya?