Psikolog Larang Orang Tua Mengerjakan PR Anak, Cek Alasannya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi ibu menemani anaknya belajar. shutterstock.com

    Ilustrasi ibu menemani anaknya belajar. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pekerjaan rumah atau PR adalah tantangan tersendiri bagi anak yang sudah bersekolah. Karena dianggap tantangan, tidak jarang orang tua turun tangan membantu anaknya mengerjakan PR. Membantu dalam artian tidak sekadar mendampingi dan memberikan arahan, namun benar-benar mengerjakan PR anak.

    Tentu hal ini kurang tepat. Seperti dijelaskan psikolog Ajeng Raviando, bahwa tujuan pemberian PR karena guru ingin mendapatkan penilaian yang tepat tentang kemampuan anak, bukan kemampuan orang tua.

    "Jadi orang tua perlu memahami tujuan ini dulu, dengan demikian akan membiarkan anak mengerjakan PR-nya sendiri," kata Ajeng "Jika kemudian anak melakukan kesalahan, justru bagus. Jadi guru tahu kekurangan setiap anak. Kalau semuanya benar dan ternyata yang mengerjakannya orang tua, maka kemampuan orang tua yang diukur guru."

    Jika anak bertanya tentang PR-nya, Ajeng juga mengingatkan agar orang tua tidak langsung segera memberikan jawabannya. Berikan sedikit jeda agar anak terpacu untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaannya sendiri.

    Artikel lain:
    Kesiapan Jadi Orang Tua juga Dipengaruhi Zodiak, Ini Detailnya
    Masih Banyak Anak Senang Membaca Buku, Butuh Peran Orang Tua
    Pentingnya Peranan Orang Tua dalam Meredam Emosi Remaja

    "Kalau anak tanya, ‘Ini PR-nya bagaimana?’ Orang tua bisa menjawab, ‘Coba kamu baca lagi’," saran Ajeng Raviando. "Jadi beri kesempatan mereka untuk berproses (mengerjakan PR-nya sendiri) sehingga nanti proses inilah yang akan memberi hasil sesuai dengan kemampuan anak," lanjutnya.

    Perlu diingat, membiarkan anak mengerjakan PR sendiri bukan berarti tidak sayang. Hal ini justru penting untuk melatih kemandirian anak dalam belajar. Dikatakan Ajeng, banyak orang tua yang berharap ketika anaknya tumbuh semakin besar mandiri dalam hal belajar. Namun bagaimana mungkin kalau sejak kecil dibantu terus mengerjakan PR?

    Oleh karena itu, mendampingi anak belajar pun tidak perlu terus menerus, cukup sesekali saja," tegas Ajeng. Akan tetapi, orang tua bisa hadir sebagai pihak yang menjamin situasi kondusif untuk anak belajar atau mengerjakan PR-nya.

    "Misalnya, orang tua bisa menyediakan camilan yang disukai anak, memberikan pujian agar mereka tambah semangat, atau menyediakan peralatan yang mendukung pengerjaan PR atau tugas sekolah mereka," paparnya.

    AURA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.