Rabu, 20 September 2017

Kapan Kualitas Sperma Bagus dan Siap Mental Jadi Ayah

Minggu, 16 Juli 2017 | 13:30 WIB
Ilustrasi pria bermain dengan anak-anak. nspcc.org.uk

Ilustrasi pria bermain dengan anak-anak. nspcc.org.uk.

TEMPO.CO, Jakarta - Perempuan dan laki-laki memiliki ukuran kematangan fisik untuk membangun ikatan keluarga dan menjadi seorang ibu atau ayah. Keduanya harus menyadari kalau usia jelas mempengaruhi tingkat kesuburan dan kesiapan mental sebelum punya anak.

Profesor bidang Urologi dan Reproduksi di Weil Cornell Medical College,  Harry Fisch, M.D., mengatakan wanita yang memiliki pasangan berusia di atas 40 tahun, umumnya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk hamil. "Tapi wanita yang usia pasangannya sekitar 25 tahun, akan hamil lebih cepat hamil," katanya.

Sebab, kualitas sperma terus menurun sebesar 1 persen setiap tahun setelah pria berusia 30 tahun. Artinya, pria tersebut memang tetap menghasilkan sperma namun kualitasnya tidak sebagus sebelum 30 tahun.

Di umur 35 tahun, motilitas atau kecepatan pergerakan sperma juga menurun. Kesehatan dan gerak sperma dalam kondisi prima sebelum berumur 25 tahun. Kualitasnya berada ke titik terendah setelah usia 55 tahun. Pada saat itu, pria kehilangan daya reproduksi mereka hampir 50 persen.

Kendati pria memiliki kualitas, motilitas, dan energi seksual yang tinggi pada usia 22 sampai 25 tahun, pada masa itu umumnya kondisi mentalitas lelaki belum sepenuhnya siap untuk berkeluarga. Jadi, antara usia 28-30 tahun bisa dikatakan waktu terbaik bagi seorang pria untuk menjadi ayah.


Bagaimana dengan lelaki yang sudah menikah sebelum berumur 20 tahun? Usia 15-19 tahun merupakan tahap awal produksi sperma. Jadi pada umur tersebut, sperma sudah bisa membuahi sel telur. Namun demikian, perlu diperhatikan kondisi mentalnya karena pada usia tersebut lelaki masih cenderung labil.

Mengutip penelitian dari Sinai School of Medicine, lelaki yang bereproduksi di usia 30-an, anaknya berpotensi 1,5 kali lebih besar terkena autistik. Peluang ini lebih tinggi empat kali lipat jika pria tersebut punya anak di usia 40-an.

Sementara itu, peluang anak terkena schizophrenia menjadi dua kali lipat saat ayahnya berumur 40 tahu dan menjadi tiga kali lipat pada lelaki berusia 50 tahun. Dan sebuah studi yang dilakukan University of California di Los Angeles pada 2005 menunjukkan bayi yang lahir dari ayah berusia 50 tahun dan ibunya berusia sekitar 35 tahun berisiko empat kali lipat terkena down syndrome. Meski berbagai penelitian menyebutkan risiko tadi, perlu diingat kalau kondisi setiap pria berbeda dan banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi.

BOLDSKY | MENS HEALTH | DINA ANDRIANI | RINI K

Berita lainnya:
Ingin Berat Badan Ideal, Dokter: Jangan Pantang Nasi
Tyas Mirasih Menikah dengan Teman Dekat, Apa Plus Minusnya
Kate Middleton Sebut Panggilan Kocak George ke Ratu Elizabeth


Selengkapnya
Grafis

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Tempat-tempat yang patut dikunjungi saat libur nasional tahun 2018, tamasya semakin asyik bila kita memperpanjang waktu istirahat dengan mengambil cuti.