Soal Mode, Didiet Maulana: Jangan Sedikit-sedikit Tengok ke Barat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Desainer Didiet Maulana. TEMPO/Nurdiansah

    Desainer Didiet Maulana. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Perancang busana Didiet Maulana memutuskan membuat Ikat Indonesia sebagai tanda protes pada 2011. Pada saat itu, banyak anak muda yang mengungkapkan kemarahannya karena batik Indonesia diklaim oleh negara lain. Baca: Anak Muda Tak Bisa Menenun, Didiet Maulana Khawatir Budaya Hilang

    “Saya tidak ingin generasi ini bisanya hanya marah-marah atau terus ketinggalan, karena itu saya bikin gerakan untuk anak-anak muda di Indonesia agar mulai menggunakan kain ikat,” ujar Didiet di Butik Ikat Indonesia, Rabu, 13 September 2017. Didiet bangga karena di sosial media, tanpa pagar Ikat Indonesia sudah hampir mencapai 60 ribu kiriman.

    Didiet Maulana ingin semangat menggunakan kain ikat sama seperti mempopulerkan kebaya. Didiet membuat beberapa model kebaya yang lebih sederhana, sehingga bisa dipadupadankan dengan celana atau kain yang lebih cocok dengan selera anak muda. Menurut Didiet, sesuatu bisa disebut kebaya bila dipadukan dengan kain tradisional. Baca juga: Bikin Baju Pengantin Paling Menantang, Didiet Maulana Butuh Waktu 15 Bulan

    Desainer kelahiran 18 Januari 1981 ini juga meyakini kalau salah satu aset yang bisa membuat Indonesia maju sekarang adalah unsur budaya. Dari sejak zaman Majapahit, tingkat kebudayaan di Indonesia sudah sangat tinggi. “Ini adalah sesuatu yang anak muda Indonesia perlu ketahui, jangan sedikit-sedikit menoleh ke Barat,” lanjut lulusan arsitektur Universitas Parahyangan, Bandung, ini.

    Dengan budaya, Didiet Maulana menyarankan anak muda belajar dari kepada ahlinya. Seperti dirinya yang mendatangi para perajin kain tenun maupun kain batik di berbagai daerah. Sekitar 4 tahun lalu, Didiet pergi ke Solo khusus untuk belajar kain dan kebaya dan ke Yogyakarta untuk mempelajari makna pemakaiannya di setiap upacara adat. Selama satu bulan, Didiet juga belajar mengenal selop, sanggul, dan berbagai nama belangkon.

    “Pada saat kita belajar dari akarnya, akan lebih mudah untuk memodifikasi karena sudah tahu dasar budayanya,” ujar Didiet. Supaya proses mengenal budaya asli Indonesia berupa kain dan kebaya mudah dikenal generasi muda, Didiet Maulana mendorong agar pengetahuan itu menjadi bagian dari pelajaran di sekolah. Artikel terkait: Didiet Maulana, Menekuni Kebaya karena Terinspirasi Sang Nenek

    ASTARI PINASTHIKA SAROSA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.