Pernikahan Muzdalifah Kacau Lagi, Apa Pelajaran yang Bisa Dipetik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pasangan bercerai. milligazette.com

    Ilustrasi pasangan bercerai. milligazette.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Biduk rumah tangga Muzdalifah kini tengah menjadi perbincangan publik.  Setelah suami pertamanya,  H.  Nurman bin Kartali meninggal,  Muzdalifah menikah dengan pedangdut Nassar.  

    Muzdalifah dikenal sebagai pengusaha besi tua yang kaya raya di Tangerang, Banten. Selama bersama Nassar,  anak Muzdalifah sempat diculik dan akhirnya berhasil selamat. Namun kehidupan rumah tangganya bersama Nassar tak berlangsung lama.  Mereka menikah pada 2012 dan berpisah tiga tahun kemudian. 

    Pada 22 Mei 2017, Muzdalifah melangsungkan pernikahan untuk ketigakalinya. Dia menikah dengan Khairil Anwar yang mengaku sebagai pebisnis Bulog. Pernilahan ini juga diterpa masalah karena Khairil Anwar diketahui punya banyak utang,  dan Muzdalifah pusing karena semua tagihan datang kepadanya.

    Bercermin dari persoalan rumah tangga yang dihadapi Muzdalifah,  banyak wanita yang pernah gagal berumah tangga namun tetap terjerumus ke dalam lubang yang sama. Mudah dibujuk, dirayu, atau ditipu daya oleh para pria menjadi salah satu faktor penyebab. Akibatnya, lagi-lagi ia tidak berpikir matang tentang siapa calon pendampingnya hingga kemudian selalu tahu keburukannya belakangan.

    ADVERTISEMENT

    Ketika kegagalan berumah tangga terjadi lagi untuk kedua atau ketiga kalinya, Anggia Chrisanti, konselor dan terapis di Biro Konsultasi Psikologi Westaria menyebut beberapa langkah yang harus segera diambil. "Sehingga mudah-mudahan tidak mengulang kesalahan yang sama ke depannya," kata Anggia.

    Berikut ini beberapa langkah yang harus dilakukan setelah mengalami kegagalan berumah tangga lagi menurut Anggia.

    1.  Tuntaskan inner child
    Tidak ada cara lain, minta bantuan ahli atau psikolog untuk menuntaskan inner child. Kita tentu tidak ingin selalu mengambil keputusan tergesa-gesa dan salah yang cenderung merugikan.

    2. Perluas wawasan
    Perbanyak bergaul dengan lingkungan yang positif dan memberi pengaruh terhadap wawasan. Minimal cara ini akan menjadi pagar buat kita dalam mengambil berbagai keputusan. Minimal kita punya teman dalam berbagi apa yang ada di dalam pikiran atau yang kita rasakan.

    3. Beri kesempatan orang lain untuk terlibat
    Kita tentu punya orang tua, saudara, sahabat, bahkan anak-anak yang mungkin sudah dewasa. Berikan mereka ruang untuk masuk dan terlibat dalam kehidupan, terutama dalam pengambilan keputusan-keputusan penting karena orang-orang yang menyayangi kita, meski nanti yang kita dapatkan berseberangan atau kontra dengan apa yang kita inginkan, mereka sesungguhnya melakukannya dengan pertimbangan rasa sayang.

    4. Bukan lagi tentang hidup semata
    Saat sudah ada anak-anak, maka kehidupan bukan lagi milik kita sendiri. Egois boleh, namun jangan berlebihan, harus proporsional. Sebagai orang dewasa yang bahkan punya tanggung jawab besar dan utama menjadi pendamping hidup anak-anak, kita pun bertanggung jawab agar keputusan-keputusan kita dalam merasa, berpikir, dan bertindak jangan sampai memberi contoh buruk, apalagi berpengaruh buruk pada mereka di kemudian hari. Jangan menjadi penyebab inner child negatif bagi mereka.

    TABLOIDBINTANG

    Artikel lain:
    Tidur dengan Mulut Terbuka, Ada Cara Mencegahnya
    Rumah Tumbuh Kaum Urban, Ruang Sempit Terasa Lapang
    Mengantuk Setelah Makan Siang, Atasi dengan 7 Trik Sederhana


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Level 4 dan 3 di Jawa dan Bali, Ada 33 Wilayah Turun Tingkat

    Penerapan PPKM Level 4 terjadi di 95 Kabupaten/Kota di Jawa-Bali dan level 3 berlaku di 33 wilayah sisanya. Simak aturan lengkap dua level tadi...