Arus Mudik dan Balik Lebaran, Peak Season Bak Kartu Mati

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan calon penumpang mengantre masuk ke dalam Terminal Keberangkatan 1 C, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, 22 Juni 2017. Pengelola bandara memprediksi puncak arus mudik Lebaran 2017 melalui Bandara Soekarno Hatta terjadi pada 22-23 Juni ini, dengan rata-rata penumpang mencapai 200 ribu orang. ANTARA FOTO

    Ratusan calon penumpang mengantre masuk ke dalam Terminal Keberangkatan 1 C, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, 22 Juni 2017. Pengelola bandara memprediksi puncak arus mudik Lebaran 2017 melalui Bandara Soekarno Hatta terjadi pada 22-23 Juni ini, dengan rata-rata penumpang mencapai 200 ribu orang. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggaran untuk transportasi udara menjelang dan sesudah libur Lebaran benar-benar menguras dompet. Tiga tahun lalu, tiket mudik dan balik Lebaran dengan maskapai pelat merah masih bisa ditebus dengan uang Rp 1,2 juta. Namun setelah itu, nominal uang yang sama hanya cukup untuk beli tiket mudik.

    Salah satu sebabnya, maskapai penerbangan menerapkan sistem blackout selama peak season. Apa yang dimaksud blackout dan peak season?

    Blackout adalah kebijakan di mana segala bentuk promosi untuk menggoyang harga tiket tak berlaku. Pada periode itu, diberlakukan tarif normal.

    Traveler Claudia Kaunang mengatakan, sistem blackout biasanya diberlakukan pada peak season. Peak season adalah musim di mana kebanyakan orang membeli tiket dengan tujuan liburan. Biasanya terjadi menjelang liburan, mendekatiRamadan, dan berlangsung hingga beberapa hari setelahnya.

    ADVERTISEMENT

    “Tahun ini Lebaran jatuh pada bulan Juni. Peak season itu terjadi pada dua minggu sebelum hari H dan 10 hari setelah hari H. Selama itu, diberlakukan sistem blackout," katanya. Berdasarkan pengalaman, Claudia menjelaskan, membeli tiket dari jauh hari atau mendekati hari H akan sama saja.

    Namun demikian, Claudia mengatakan masih lebih baik beli tiket sejak jauh-jauh hari. Jika beli mendekati hari H, harga tiket yang mahal semakin mahal serta peluang mendapat tiket mengecil karena banyak orang yang menginginkannya.

    Claudia mengingatkan, Lebaran hanya satu dari beberapa peak season yang ada dalam setahun. Peak season lainnya terjadi pada pergantian tahun ajaran baru anak sekolah, Natal, dan tahun baru. “Peak season Lebaran terjadi pada H-14 sampai H+10. Sementara peak season Natal dan tahun baru terjadi mulai 15 Desember ke atas hingga lepas tahun baru,” katanya.

    Peak season, menurut Claudia, bagaikan kartu mati. Satu-satunya cara mengakali membengkaknya anggaran transportasi liburan yakni menyisihkan 10 persen dari pendapatan kita setiap bulan. Tak cuma tiket, pengeluaran untuk menyewa penginapan juga mesti disiapkan sejak lama.

    Kebalikan dari peak season adalah low season. Low season terjadi pada Januari, Februari, Maret, dan April. Kecuali, jika pada bulan itu ada Lebaran mengingat Lebaran bergerak maju setiap tahun.

    TABLIOIDBINTANG

    Berita lainnya:

    Mudik Lebaran di Siang dan Malam Hari Beda Pakaiannya
    Mudik Lebaran Bersama Anak, Perhatikan Gejala Heatstroke
    Dehidrasi Saat Mengemudi, Kondisinya Sama Buruknya dengan Mabuk


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Landai Angka Kasus Harian Covid-19, Angka itu Mengelabui Kita

    Pemerintah klaim kasus harian Covid-19 mulai melandai. Lalu mengapa pendiri LaporCovid-19 mengatakan bahwa angka itu tak ada artinya?