Sindrom Mayat Hidup, Ada Zombie di Kehidupan Nyata

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita tertidur. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita tertidur. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pernahkah kamu menonton serial The Walking Dead yang bercerita tentang pertarungan manusia melawan para zombie. Kisah mayat hidup itu hanya fiksi dan tak ada di kehidupan nyata, begitulah yang dipikirkan kebanyakan orang.

    Sebenarnya ada "mayat hidup" dalam kehidupan nyata dan disebut Sindrom Cotard, atau lebih populer dengan istilah Sindrom The Walking Dead, dengan penyebab kelainan mental.

    Seorang penulis, Esme Weijun Wang, menderita fenomena ini setelah beberapa bulan hidup dalam kebingungan dan depresi. Ia harus menata kembali hidupnya dan mencoba menjalani kenyataan di sekitarnya dan tak ada yang membuatnya puas.

    Wang baru saja bangun kembali setelah beberapa minggu sebelumnya dinyatakan meninggal. Kita mungkin lebih mengenalnya dengan istilah mati suri. Dan ketika kembali dari kematian Wang menjalani hidup yang sama seperti sebelum ia meninggal, dan hal itulah yang tidak membuatnya senang.

    ADVERTISEMENT

    Orang-orang di sekitar berusaha menjelaskan dan meyakinkan kalau ia hidup, tapi Wang lebih berpikir bahwa sesungguhnya ia sudah mati. Untunglah pada suatu hari ia menyadari tingkah lakunya dan kemudian mengubahnya. Wang pun merasa hidup kembali.

    Lalu, apa penjelasan ilmiah atas kasus Wang? Seperti dilansir askdrmanny.com, para ilmuwan tak tahu banyak soal penyebab penyakit ini. Mereka hanya menganggap ada beberapa masalah di otak. Yang pertama adalah orang tersebut merasa melihat wajah-wajah yang pernah ia kenal, namun ia berpikir orang-orang itu tidak nyata atau bukan mereka yang memang ia kenal.

    Masalah kedua adalah bagian otak yang berhubungan dengan emosi. Orang dengan sindrom mayat berjalan itu menunjukkan kurangnya minat pada orang-orang sekitar, makanan, dan aktivitas favoritnya.

    Meski sindrom ini bisa muncul dalam beberapa cara yang berbeda, beberapa penderita percaya mereka sudah mati. Mereka tidak punya minat lagi terhadap kehidupan nyata yang mereka sukai. Beberapa orang lain merasa kehilangan organ-organ tubuh atau tubuhnya sudah membusuk. Tak jarang para penderitanya melakukan kekerasan, seperti berusaha bunuh diri atau melukai orang lain.

    Dalam kasus sindrom mayat hidup lain, seorang penderita bernama Graham mengalami depresi berat. Ia merasa tak punya kepala dan otak, tak mau makan, sering ke pemakaman, dan beberapa kali mencoba bunuh diri.

    Ketika para dokter memindai otaknya, mereka terkejut melihat rendahnya aktivitas di area yang mengontrol fungsi motorik dan daya ingat. Menurut neurolog Steven Laurey, otak Graham menunjukkan pola yang sama dengan seseorang yang sedang tertidur atau dalam pengaruh obat bius.

    Saat ini, para dokter merawat pasien dengan sindrom tersebut dengan beberapa pengobatan, termasuk antidepresan dan antipsikotik. Sebagian lagi menilai penyembuhan elektrokonvulsif lebih baik dari obat-obatan, tapi para ilmuwan kurang meneliti metode ini. Banyak penderita yang tidak lagi berdelusi setelah beberapa bulan, tapi ada pula yang menderita sampai bertahun-tahun.

    PIPIT

    Berita lainnya:

    Jokowi Bakal Berbesan dengan Orang Batak
    7-Eleven Tutup, Ada 5 Hal yang Bakal Bikin Kangen
    Gaya Parenting Asri Welas: Tak Ada Nangis Guling-guling di Mal


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pujian dan Kado Menghujani Greysia / Apriyani, dari Sapi hingga Langganan Berita

    Indonesia hujani Greysia / Apriyani dengan sanjungan dan hadiah. Mulai dari sapi, emas sungguhan, sampai langganan produk digital. Dari siapa saja?