Antisipasi Kecanduan Makanan dengan Menu Alternatif

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bubur oat. Shutterstock

    Ilustrasi bubur oat. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebiasaan ngemil bisa memicu konsumsi berlebih pada bahan makanan yang bersifat adiktif, seperti gula, garam, lemak, gandum, dan kafein. Asupan itu masuk ke tubuh bukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan energi, melainkan merangsang otak untuk mengaktifkan sensasi kenikmatan.

    Nah, aktivitas makan yang ideal dipenuhi ketika rasa lapar timbul karena perut kosong, bukan dipicu oleh tiga rangsangan tersebut. Biasakan tubuh mengenali sumber rasa lapar. Ada rasa lapar yang dipicu oleh rangsangan visual, bau, dan otak.

    Bila tak bisa mengontrol hasrat makan, seseorang bisa terserang penyakit akibat gaya hidup tak sehat, misalnya jantung, obesitas, dan diabetes. Penyakit jantung dan diabetes merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

    Agar terhindar dari penyakit tadi, juru masak profesional Yuda Bustara memberikan saran penyajian menu makan untuk mengantisipasi kecanduan makanan yang berujung pada penyakit. Ia menjelaskan banyak bahan makanan selain nasi yang bisa diolah untuk sarapan atau makanan pendamping.

    ADVERTISEMENT

    Yuda, yang lulusan Taylor’s College, Malaysia, mengatakan bahan seperti oat, buah segar, dan yoghurt bisa di-blender untuk mendapatkan menu sarapan alternatif. "Nutrisinya lengkap karena ada protein, karbohidrat, dan vitamin sekaligus," ujarnya.

    KORAN TEMPO

    Berita lainnya:
    Resep Kue Sikaporo Khas Bugis 
    Ikan Panggang ala Hokkaido di Takumi Restoran
    Gula, Bahan Bakar Instan Tubuh tapi Waspadai Efeknya


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti Istilah Kebijakan Pemerintah Atasi Covid-19, dari PSBB sampai PPKM

    Simak sejumlah istilah kebijakan penanganan pandemi Covid-19, mulai dari PSBB hingga PPKM, yang diciptakan pemerintah sejak 20 April 2020.