Merasa Kesal dan Murung, Anda Wajib Belajar dari Anak-anak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak-anak bermain bersama. shutterstock.com

    Ilustrasi anak-anak bermain bersama. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kesibukan kerap membuat orang lupa apa arti hidup bahagia. Manusia menjadi robot yang tanpa perasaan saling berkejaran untuk kepentingan masing-masing. Pertanyaannya, bisakah kita menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak dengan sikap seperti ini? Jawabnya tentu tidak.

    Anak-anak ingin menjalani kehidupan yang penuh warna dan pakai hati. Namun kita selalu menempatkan anak-anak di bawah tekanan persaingan yang konstan dan lupa membuat mereka belajar arti sebenarnya dari kehidupan.

    Ini alasan ada banyak anak yang tahu sopan santun di meja tapi tidak tahu cara bermain dengan kupu-kupu, pasir, bunga, dan air. Terlepas dari semua ketegangan dan tuntutan orang tua, anak-anak paling tahu cara menikmati hidup. Kita sebagai orang dewasa jangan gengsi untuk belajar beberapa hal penting dari anak-anak.

    1. Tiada dendam
    Anak-anak tidak menyimpan dendam, tak seperti orang dewasa. Bahkan, jika dimarahi dan dipukuli, mereka tersenyum dengan sepenuh hati beberapa saat kemudian. Sebaliknya, orang dewasa bisa menunjukkan kemarahan, emosi, dan mungkin menghina orang lain.

    2. Memaafkan dan melupakan
    Anak-anak hidup dengan peraturan ini. Kita sebagai orang dewasa sering kali lupa akan hal itu. Setelah bertengkar dengan anak-anak lain, mereka langsung mulai bermain satu sama lain dan melupakan semuanya. Itu adalah sikap yang sangat baik yang tidak dimiliki orang dewasa. Sedangkan orang dewasa kerap menahan kemarahan terhadap orang lain selama bertahun-tahun.

    3. Tidak mengutamakan ego
    Hal lain yang bisa kita pelajari dari anak-anak adalah tidak memiliki ego. Tampaknya, saat kita tumbuh, ego turut tumbuh di dalam diri. Ego serta kebanggaan adalah hal yang menghancurkan secara perlahan dan akhirnya kita menjadi kosong dari dalam. Kita harus belajar melepaskan ego dan menikmati hidup sepenuhnya.

    4. Menikmati hal-hal kecil dalam hidup
    Kita harus belajar dari anak-anak tentang cara menikmati hal-hal kecil dalam hidup. Anak-anak menjadi bahagia setelah menerima mainan sederhana, es krim, permainan, sepatu baru, tas sekolah baru, dan lain-lain.

    Sedangkan orang dewasa cenderung melupakan pentingnya hal-hal kecil di dalam diri. Orang dewasa juga jarang menunjukkan rasa syukur atas berkah yang diterimanya dan terus mengeluh. Inilah alasan utama ketidakbahagiaan hidup orang dewasa.

    5. Tidak ada gosip, pengkhianatan, dan kemunafikan
    Apakah Anda melihat ada anak yang secara politis benar, memanipulasi sesuatu, atau menikam temannya? Jawabannya tidak ada. Anak-anak bahkan tidak tahu arti semua itu. Mereka adalah jiwa dan hati yang murni. Mereka masih menikmati hidup tanpa bergosip dan menikam teman dari belakang. Sebenarnya mereka senang karena tidak menyukai kebiasaan tidak sehat semacam itu.

    6. Merayakan kesuksesan bersama
    Anak menjadi bahagia saat teman bahagia. Tapi orang dewasa justru sebaliknya. Orang dewasa menikmati kekalahan dan menertawakan kegagalan orang lain.

    BOLDSKY | LUCIANA

    Berita lainnya:
    Metode Parenting Versi Gibran Jokowi
    Desain Ruangan yang Tingkatkan Kreativitas Anak
    Ahmad Albar Punya Anak di Umur 70, Bagaimana Interaksi Mereka



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.