Risiko Mengancam Anak dengan Membawa Nama Pasangan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi orang tua memarahi anak/anak menangis. Shutterstock.com

    Ilustrasi orang tua memarahi anak/anak menangis. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Sadar atau tidak, ibu atau ayah kerap melontarkan ancaman kepada anak dengan membawa nama pasangan. Contoh, "tunggu sampai mama tahu!" atau "kalau papa pulang nanti". Secara tidak langsung, kebiasaan ini akan merusak pola hubungan anak dengan orang tua.

    Kedua ungkapan ini biasanya dijadikan senjata ampuh para orang tua ketika putus asa menghadapi kelakuan si kecil. Meski terkadang berhasil, ancaman tersebut mempunyai dampak negatif. Sebab, si kecil akan menerjemahkan ancaman tersebut dengan, "Ibu tidak berdaya sama seperti Kamu," atau "Kamu lebih berkuasa dibanding Ibu."

    Ancaman yang membawa pasangan juga menandakan Anda menyerah dan mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain. Mengutip laman Empowering Parents, anak mungkin menganggap orang tua yang sedang ditunggu sebagai musuh karena ia menentukan segala keputusan.

    Ketimbang melontarkan ancaman seperti itu, cobalah merespons anak dengan, "ibu harus diskusi dulu dengan ayah sebelum membuat keputusan." Respons tersebut sebaiknya hanya diberikan ketika perilaku anak membutuhkan perhatian lebih, misalnya berbohong guru atau mencuri.

    ADVERTISEMENT

    Intinya, munculkan kesan kepada anak bahwa kedua orang tuanya satu suara dan membuat keputusan bersama-sama.

    TABLOIDBINTANG

    Berita lainnya:

    7 Kiat Orang Tua Kurangi Stress Anak Saat Ujian

    Berikan Tugas Sesuai Usia dan Perkembangan Anak
    Cucu Hillary Clinton Dididik Menjadi Wanita Tangguh

     


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Medali Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020, Ada Greysia / Apriyani

    Indonesia berhasil menyabet 5 medali di Olimpiade Tokyo 2020. Greysia / Apriyani merebut medali emas pertama, sekaligus terakhir, untuk Merah Putih.