Mainan Tradisional, Ada Proses Kreatif, Jujur, dan Sederhana

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komunitas mainan tradisional. TEMPO/Frannoto

    Komunitas mainan tradisional. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.CO, Jakarta - Mainan tradisional kini rentan tergilas permainan digital. Kini, anak-anak lebih mahir menggunakan gawai ketimbang gasing, congklak, lompat karet, apalagi egrang. Meski begitu, masih ada komunitas yang berusaha melestarikan permainan tradisional. Salah satunya adalah Gudang Dolanan Indonesia di Depok, Jawa Barat. Komunitas ini dikelola Endi Agus Riyono, yang akrab disapa Endi Aras.

    Artikel terkait:
    Ayo Main Dolanan Tradisional
    Dampak Terparah jika Anak Kecanduan Main Gadget
    Benarkah Anak Jadi Lebih Pintar bila Sering Bermain Gawai?

    Endi adalah mantan wartawan seni yang rajin mengumpulkan mainan tradisional dari berbagai daerah di Tanah Air. Endi menuturkan, gasing merupakan mainan pertama yang dia kumpulkan ketika meliput sekaligus menjadi panitia pelaksana Festival Gasing Indonesia di Ragunan, Jakarta, pada 2005 lalu. Kini, koleksi gasingnya mencapai 280 buah. Selain itu berbagai permainan lain dari ukuran mini sampai raksasa. “Semuanya hasil pungutan saya,” kata pria kelahiran Blora ini.

    Dia menyebutkan, dalam permainan gasing ada proses kreatif karena anak dituntut membuat sendiri mainannya. Selain itu, permainan tradisional menumbuhkan nilai-nilai kejujuran, sportivitas, kebersamaan, dan kesederhanaan. “Kalau kalah, ya, sudah akui kalah,” ucapnya.

    ADVERTISEMENT

    Seperti lirik lagu Enam milik Iwan Fals, ia menuturkan aneka mainan anak-anak di zaman sekarang terbuat dari plastik dan besi dengan harga mahal. “Kini, semua memakai teknologi. Dalam satu genggaman, semua informasi dan permainan bisa dinikmati,” kata Endi. Padahal, dulu, ucap dia, anak-anak sangat bangga dengan seabrek kelereng yang disimpan di dalam kaus kaki atau punya karet gelang dan gasing buatan sendiri. Anak-anak di masa lalu juga gemar bermain petak umpet dan berkejaran bersama teman-temannya.

    Seniman Putu Setia mengatakan permainan tradisional yang dibangkitkan Endi menjadi “polisi tidur” di tengah gempuran mainan anak modern yang diproduksi secara massal dan mudah ditemui di mal. “Semoga ada Endi-Endi lain ke depan,” kata pria kelahiran Tabanan, Bali, itu.

    Putu bermimpi, suatu saat berdiri museum yang didedikasikan untuk permainan tradisional anak Indonesia. Seperti museum peradaban Smithsonian di Washington, D.C, Amerika Serikat, yang menampilkan mainan-mainan sederhana yang diakrabi 50 tahun lalu di Tabanan.

    Berdasarkan data di pameran yang diperoleh Tempo, Indonesia memiliki 2.500 jenis permainan tradisional yang mirip antara satu daerah dan daerah lainnya. Misalnya, permainan yang terdapat di Jawa dan Papua memiliki teknik dan aturan permainan yang sama. Perbedaan hanya terletak pada alat dan bahan permainan yang disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing.

    MARTHA WARTA SILABAN

    Berita lainnya:
    Pertanda Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
    Kenapa Wanita Rela Berdandan Lama demi Tampil Cantik?
    Putri Raja Arab Sewa 41 Kamar Hotel di Paris Selama 5 Bulan


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Level 4 dan 3 di Jawa dan Bali, Ada 33 Wilayah Turun Tingkat

    Penerapan PPKM Level 4 terjadi di 95 Kabupaten/Kota di Jawa-Bali dan level 3 berlaku di 33 wilayah sisanya. Simak aturan lengkap dua level tadi...