Amankah Bersepeda untuk Organ Kewanitaan?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Brasil Dilma Rousseff, menaiki sepeda sehari sebelum sidang mendengarkan saksi di Istana Alvorada di Brasilia, Brasil, 28 Agustus 2016. Agenda sidang yakni mendengar saksi-saksi dengan fokus tuduhan terhadap Rousseff yang dianggap melanggar undang-undang anggaran negara. REUTERS/Ueslei Marcelino

    Presiden Brasil Dilma Rousseff, menaiki sepeda sehari sebelum sidang mendengarkan saksi di Istana Alvorada di Brasilia, Brasil, 28 Agustus 2016. Agenda sidang yakni mendengar saksi-saksi dengan fokus tuduhan terhadap Rousseff yang dianggap melanggar undang-undang anggaran negara. REUTERS/Ueslei Marcelino

    TEMPO.CO, Jakarta - Bersepeda adalah olahraga yang menyenangkan dan bisa dilakukan di dalam, seperti pusat kebugaran, atau luar ruangan menyusuri jalan-jalan atau pegunungan. Selain menyenangkan, bersepeda juga baik buat kesehatan.

    Meski demikian, para pakar mengingatkan dampak bersepeda pada area kewanitaan. Tak jarang setelah turun dari sepeda, pinggul dan sekitar vagina terasa sakit atau mati rasa. Meski tak bersahabat dengan vagina, para pakar juga meminta agar kesenangan bersepeda jangan sampai dihentikan.

    Salah satu yang terpengaruh kegiatan bersepeda adalah saraf kemaluan atau pundendal, yang merupakan saraf utama di area pinggul. Saraf inilah yang memberikan perasaan pada daerah kemaluan dan perineum, atau area antara anus dan kemaluan, serta memberi sensasi pada klitoris.

    Saraf pudendal mengitari tulang pinggul dan bila ada tekanan di area tersebut, maka saraf pun ikut meraakan dampaknya. Tekanan yang tak besar tidak masalah atau bahkan menyenangkan, tapi bila tekanan terlalu besar maka saraf akan tertekan.

    Menurut ahli bedah plastik Andrew Elkwood, dampak dari saraf tertekan itu antara lain kesemutan dan mati rasa di tangan. Tapi perasaan itu akan hilang setelah tak ada lagi tekanan pada saraf.

    Bila tekanan terlalu sering terjadi, akibatnya justru lebih berbahaya dan bisa menyebabkan kerusakan, termasuk saraf terjepit. Tapi tak perlu khawatir, biasanya hal ini terjadi pada mereka yang bersepeda selama berjam-jam setiap hari, seperti para pebalap sepeda atau atlet triatlon.

    "Banyak juga wanita yang mengalami kerusakan saraf akibat melahirkan dan tak jarang baru terjadi bertahun-tahun kemudian," jelas Elkwood kepada SELF.

    Sementara itu, Dr. Jaime Knopman mengingatkan bila kesemutan dan mati rasa tidak hilang satu jam setelah berhenti bersepeda, sebaiknya segera pergi ke dokter untuk memastikan tak ada hal serius yang terjadi. Tetapi bila kesemutan dan mati rasa itu langsung hilang tak lama setelah kita turun ari sepeda, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan.

    Selain itu, semakin sering wanita bersepeda maka pinggul dan saraf pun semakin terbiasa mendapat tekanan sehingga rasa tak nyaman itu tak lagi muncul. Perhatikan pula posisi sadel dan setang sepeda karena ikut mempengaruhi saraf pudendal. 

    Menurut Knopman, sebaiknya posisi setang tak lebih rendah dari sadel karena posisi menunggang sepeda yang membungkuk akan memberi tekanan yang lebih besar pada pinggul. Selain itu, pilihlah celana dalam yang bisa mengalirkan udara sehingga vagina tidak lembab dan menjadi sarang kuman.

    PIPIT

    Baca juga:
    Bahaya Mengkonsumsi Mentega Setiap Hari
    Makan Nasi Merah Setara 30 Menit Jalan Kaki
    Ada 3 Tipe Menyikat Gigi, Mana yang Terbaik?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTUN: Blokir Internet di Papua dan Papua Barat Melanggar Hukum

    PTUN umumkan hasil sidang perihal blokir internet di Papua dan Papua Barat pada akhir 2019. Menteri Kominfo dan Presiden dinyatakan melanggar hukum.